QS. 3; Ali Imran ayat 96-97
Gema takbir dengan semarak berkumandang
Kita lantunkan dengan khusyu’ yang riang
Jutaan manusia mmemenuhi panggilan Rab-nya
Berebut syorga indah yang menjadi imbalannya
Kita rayakan isul adha dengan hati bersih dan indah
Dengan harapan semoga do’a-do’a kita dapat diijabah
Dengan Qurban kita lestarikan semangat berbagi.
semoga melahirkan damai di dalam hati
Menuju damai di seluruh belahan bumi.
Semoga Iman kita dipenuhi oleh kesabaran
setegar Ismail yang jadi simbol sembelihan
Setulus Ibrahim yang penuh dengan kerelaan
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadah) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia. Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam. (QS. 3; Ali Imran ayat 96-97).
TERNYATA TERTIPU
Sekarang yang dikira keren itu kalo bisa melafazkan hermes, chanel atau louis vuitton dengan benar...tapi ternyata apalah artinya saat gak bisa bedain lafadz huruf hijaiyah da, dza, ta, tsa, juga sya, sho... apalagi sampai usia segini belum bisa ngaji tartil...
Sekarang yang dikira keren itu kalo bisa naik pesawat melancong keluar negeri lalu foto-foto di berbagai negara...tapi ternyata apalah artinya saat gak pernah mengunjungi Baitullaah...sedang usia terus habis tak bisa dikembalikan...
Sekarang yang dikira keren itu kalo anak masih kecil bisa bahasa Inggris ..fasih nyanyiin lagu barat... sehari-hari tinggal di indonesia tapi pake bahasa Inggris campur Indonesia .... tapi apalah artinya saat ditanya siapa penciptanya kelak di alam kubur bahkan gak bisa menyebut nama Allah dengan benar dan lantang...untuk berdoa sehari-hari, asing bagi anak seolah gak pernah hidup untuk ibadah... Yang keren itu bisa bahasa luar tapi bisa ngaji, hapal doa dan terjemahin dalam bahasa Inggris.. Biar gak kalah sama 'mereka'
Sekarang yang dikira keren itu kalo suami istri matching kemana-mana serasi...dandanan maksimal... tapi ternyata apalah artinya jika gak jadi partner dalam perkara akhirat..tidak saling tolong menolong dan menasehati dalam agama... lebih mentingin penampilan dibanding hakikat suami istri yang ssungguhnya...
Sekarang yang dikira keren itu kalau rumah bagus.. ada rancangan arsitek yang kekinian..dengan biaya pembangunan yang mahal padahal mubazir....sebab penghuninya hanya sedikit dan jarang di rumah...apalagi jika di dalamnya tidak pernah dijadikan tempat ibadah dan jarang dibacakan ayat-ayat Allah...lagi pula rumah mewah itu tak akan pernah dibawa mati.....
Sekarang yang dikira keren itu kalau tahu etika tablemanner ...makan steak dengan pisau di kanan dan garpu di tangan kiri... tapi ternyata makan ala Islami tidak mengajarkan demikian...makanlah dengan tangan kanan karena makan dengan tangan kiri adalah meniru makannya syetan..
Sekarang yang dikira keren itu kalo weekend jalan-jalan dengan keluarga ke mall atau tempat rekreasi lainnya.. harmonis...tapi akankah berkumpul kelak di akherat jika suami hanya mengajak
istri dan keluarga pada hal-hal keduniaan... lupa pada hakekat hidup yang sebenarnya...suami bahkan tidak tahu jika selama ini istrinya belum tahu cara wudhu yang benar..
Sekarang yang dikira keren itu yang sekolahnya tinggi dengan gelar seabreg ... tapi ternyata hal tersebut justru menjerumuskan yang bersangkutan pada keburukan dan kecacatan akidah... apalah artinya pengorbanan uang, tenaga, waktu jika yang didapat tidak dapat
mnyelamatkan dari azab Allah...malah dengan
akal pemberian Allah itu perintah-Nya diputar balik menjadi sesuai dengan hawa nafsunya sendiri...
Sekarang yang dikira keren itu...
Ah banyak lagi deh...
tapi semua ternyata gak ada artinya jika tidak sejalan dengan perintah Allah dan Rasul-Nya. Apalagi jika jelas-jelas bertentangan...
Ah ternyata ....
Dunia ini menipu...
Dunia ini senda gurau belaka..
Segeralah menyerah pada Rabbmu...
Sebelum kau tertipu lebih banyak lagi...
By. Satria hadi lubis
UNTAIAN HIKMAH IBADAH HAJI II (dua)
WUQUF DI ARAFAH
Ya Allah. Tuhan yang maha indah. tiada rasanya yang lebih indah dari hati yang tergugah, membuat cinta merekah, saat berkumpul di Arafah, sambil memandang Jabal rahmah, berangkat ke Muzdalifah, dan bermalam di Mina, lalu melontar tiga Jumrah. Kemudiat tawaf keliling ka’bah, sa’i antara Safa dan Marwah, berada di rumah Allah, pipipun basah karena air mata tercurah.
Arafah sejak dahulu dikenal sebagai tempat beribadah para nabi. Dan Allah menetapkannya sebagai tempat wuquf yang menjadi rukun utama bagi ummat Islam yang melaksanakan ibadah haji, dan itulah membedakannya dengan ibadah umrah. Pada saat wuquf itulah Allah memberikan kesempatan kepada para tamu yang telah memenuhi undangannya untuk memohan ampunan sekaligus memanjatkan do’a yang tentu saja pasti akan dikabulkan-Nya. Sebagaimana Rasulullah telah bersaba:’Do’a yang paling afdhal adalah do’a orang yang sedang wuquf di Arafah,sementara paling afdhal bacaan yang dibaca oleh para nabi sebelum aku yang dibaca pada siang hari arafah adalah,”Tidak ada Tuhan selain Allah, Dialah Tuhan satu-satunya, Dia tidak bersekutu, hanya milik-Nyalah kerajaan, dan hanya milik-Nya segala pujian, Dia yang Menghidupkan, Dia pula yang Mematikan, Dia Maha Hidup dan tidak akan mati, ditangan-Nya segala kebaikan, Dan Dia atas segala sesuatu Maha Mampu.”
Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib RA, bahwa Nabi SAW. bersabda: ”Sesungguhnya do’a yang sering Aku dan para nabi membacanya pada siang hari Arafah adalah,: Tidak ada Tuhan selain Allah. Dialah Tuhan satu-satunya, Dia tidak bersekutu, hanya milik-Nyalah kerajaan, dan hanya milik-Nya segala pujian, Dia yang Menghidupkan, Dia pula yang Mematikan, Dan Dia atas segala sesuatu Maha Mampu, Ya Allah jadikanlah cahaya di hatiku, jadikanlah cahaya di pendengaranku, jadikanlah cahaya di penglihatanku, Ya Allah lapangkanlah dadaku, dan mudahkanlah urusanku, Aku berlindung kepada-Mu dari bisikan dan keraguan hati, dan dari keburukan urusan dan fithnah kubur. Ya Allah, sesungguhnya Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang dibawa oleh malam dan dihembuskan oleh angin.”
Dan ketika berjalan menuju arafah disunnahkan membaca do’a:”Ya Allah, kepada-Mulah aku menghadap, hanya kepada-Mulah aku bertawakkal, hanya Engkaulah yang aku inginkan, ampunilah dosa-dosaku, jadikanlah ibadah hajiku haji yang mabrur, kasihilah aku dan jangan Engkau kecewakan, berkahilah perjalananku, tunaikanlah di Arafah kebutuhanku, sesungguhnya Engkau atas segala sesuatu Maha Mampu.”
Ketika wuquf di Arafah, terasalah betapa kecilnya diri kita berhadapan dengan kemaha besaran Allah maka lidahpun tidak putus-putusnya berzikir dengan tasbih, takbir tahlil dan tahmid. Kitapun akan tercenung karena seolah-olah kita berada di Padang mahsyar yang dihadiri oleh lautan manusia yang diperlakukan sama dan tidak membedakan warna kulit dan tutur bahasa, dan tidak melihat bentuk tubuh dan penampilan , yang paling berbahagia ketika itu adalah orang yang datang dengan jiwa taqwa, yang dengan hati yang suci membawa amal shaleh yang sempat dilakukan di dunia. Pada waktu itu manusia tidak perduli lagi dengan anak dan isteri, dan tidak mau tahu dengan karib dan kerabat Sanak dan saudarapun tak bisa membantu, pangkat dan jabatan tak dapat menyelamatkan, harta dan benda sudah jauh ditinggalkan, badan yang kuat malah menjadi beban.
Pada saat itu kita dibangkit dari kubur, mizan ditegakkan, hisab dilakukan, shiratal mustaqim dibentangkan, Dan setiap manusia akan menerima putusan yang tidak dapat diganggu gugat, kalau tidak jadi penghuni surga tentu akan menjadi penghuni neraka.
Nanti di padang mahsyar, pengadilan akan digelar, banyak manusia yang tergelepar, dibawah panas terik membakar, karena dosa yang pernah disebar manusia akan berjalan tertatih tatih, melangkah terseok-seok dengan nafas yang tersengal sengal, karena memikul beban dosa, menjerit terbirit birit, kerena semua serba sulit, melolonglolong mita tolong, tak ada yang boleh menolong, mendayu-dayu merayu, bagai disayat sembilu, tak ada yang mau tahu. Sanak dan saudara yang diharapkan membantu, malah mencelakakan, pangkat dan jabatan yang diharapkan menyelamatkan, malah membinasakan harta dan benda sudah jauh ditinggalkan, badan yang kuat malah menjadi beban yang menyengsarakan. Maka terbuktilah ketika itu bahwa kesenangan dunia menipu, siangnya penuh mainan dan sandiwara, malamnya melalaikan, keindahan dan hiasannya bagai mimpi belaka, yang terasa amat sebentar ketika kita sudah melewatinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar