Minggu, 25 Oktober 2015

AIR MATA CINTA Q.S. 17; al-Israa' ayat 107-109

AIR MATA CINTA


Air mata bahagia akan mengalir ketika hati yang rindu hidayah menemukan kebenaran yang telah lama dicarinya dalam pengembaraan rohaninya. Air mata lega akan melimpah ketika orang yang sudah tersesat jauh akhirnya menemukan jalan keluar yang lurus dan lapang untuk kembali ketempat asalnya. Air mata haru akan tercurah ketika orang yang bergelimang dengan dosa dan kejahatan mendapat maaf dan menemukan jalan taubat yang diiringi dengan penyesalan dan keinginan untuk menebus kesalahannya. Air mata penyesalan akan tertumpah ketika seorang menyadari ketertipuannya oleh kehidupan dunia yang mempesona dan menyadari bahwa suatu saat ia pasti akan berhadapan dengan Penciptanya untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatannya.
Air mata cinta akan berlinang ketika seorang hamba menyadari betapa besar kasih dan sayang Allah kepadanya yang telah melimpahkan berbagai nikmat dan karunia setiap saat, yang tidak seorangpun dapat menghitungnya. Air mata tulus akan keluar ketika lubuk hati yang paling dalam yang tersentuh oleh ayat-ayat Al-Qur’an yang begitu menghanyutkan dan meluluhkan perasaan.

Menangis karena takut kepada Allah merupakan karakter hamba-hamba Allah yang bertaqwa dan orang-orang shaleh yang meneladani Nabi Muhammad SAW. Yang pernah mengajarkan bahwa ada dua mata yang tidak akan tersentuh oleh api neraka, yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang berjaga-jaga ketika berjihad di jalan Allah. Tidak ada yang lebih dicintai oleh Allahselain dua tetes benda cair yaitu tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah yang mengalir di jalan Allah. Salah satu dari tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari kiamat adalah seorang hamba yang mengingat Allah dalam kedunyian lalu tercurah melimpah air matanya. Maka beruntunglah orang-orang yang bisa menjaga lidahnya dan menangisi kesalahannya.

Allah memuji para nabi dan rasul-Nya dan orang-orang yang mendapat hidayah dari Allah yang menangis dan bersujud disebabkan mendengarkan ayat-ayat Allah yang dibacakan kepada mereka, seperti terdapat dalam firman-Nya dalam surat 29; Maryam ayat 58 yang artinya: “Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi ni`mat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis”.

Allah juga memuji Orang-orang berilmu sebelum Islam yang begitu terharu ketika mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tersungkur sujud sambil menangis dan bertambah kekhusukan mereka. mereka ini diabadikan oleh Allah dalam firman-Nya pada surat 17; al Israa’ ayat 107-109 yang artinya: “Katakanlah: "Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: "Maha Suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi". Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu`.

Lalu Allah menceritakan betapa para ahli Kitab menangis dengan air mata berlinang ketika mereka menemukan kebenaran yang telah lama merka tunggu-tunggu itu akhirnya mereka temukan yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW. Hal ini diceritakan oleh Allah dalam surat 5; al-Maaidah ayat 83 yang artinya: “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur'an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur'an dan kenabian Muhammad SAW)”.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas oleh Ibnu Abi Hatim, ketika Rasulullah SAW memrintahkan orang orang untuk berjihad bersamanya dalam perang Tabuk yang menempuh perjalanan jauh melalui panas terik matahari, datanglah segolongan sahabat dibawah pimpinan Abdullah bin Ma’qil al-Muzani dan berkata: ”Ya Rasulallah berilah kami tunggangan”. Rasulullah menjawab: ”tidak ada lagi tunggangan yang dapat membawa kalian”. Maka berlinanglah air mata mereka menyesali dirinya karena tidak punya bekal dan tunggangan untuk ikut berjihad. Mereka ini diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an surat 9; At-Taubah: ayat 92 yang artinya: “Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: "Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu", lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.

Abu Hurairah pernah membacakan sebuah hadis yang membuat para sahabat menangis, hadis tersebut artinya: ”Sesungguhnya orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah seorang yang mati Syahid. Ia dibawa ke hadapan Allah. Lalu disebutkan nikmat-nikmat Allah kepada dirinya iapun mengakuinya. Allah berfirman: ”Untuk apakah engkau gunakan nikmat tersebut?” Ia menjawab:”Aku berperang di jalan-Mu sehingga aku mati syahid”. Allah berfirman: ”Engkau dusta, sebenarnya engkau berperang supaya disebut pemberani. Begitulah kenyataannya”. Kemudian diperintahkan agar ia diseret dan dilemparkan ke dalam neraka. Kemudian seorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya dan membaca Al-Qur’an. Ia dibawa ke hadapan Allah. Lalu disebutkan nikmat-nikmat Allah kepada dirinya iapun mengakuinya. Allah berfirman:”Untuk apakah engkau gunakan nikmat tersebut?” Ia menjawab:”Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya dan membaca Al-Qur’an karena-Mu semata”. Allah berfirman: ”Engkau dusta, sebenarnya engkau mempelajari Ilmu dan mengajarkannya supaya engkau disebut alim. Engkau membaca Al-Qur’an supaya disebut Qari. Begitulah kenyataannya”. Kemudian diperintahkan agar ia diseret dan dilemparkan ke dalam neraka. Kemudian seorang yang Allah beri kelapangan harta. Ia dibawa kehadapan Allah. Lalu disebutkan nikmat-nikmat Allah kepada dirinya iapun mengakuinya. Allah berfirman: ”Untuk apakah engkau gunakan nikmat tersebut?” Ia menjawab: ”Tidak satupun perkara yang Engkau anjurkan untuk berinfak di dalamnya melainkan aku infakkan hartaku karena-Mu semata”. Allah berfirman: ”Engkau dusta, sebenarnya engkau berinfak supaya disebut dermawan. Begitulah kenyataannya”. Kemudian diperintahkan agar ia diseret dan dilemparkan ke dalam neraka.
Salah seorang sahabat yang mendengar hadis ini adalah Mu’awiyah, ia langsung menangis hingga ia jatuh pingsan. Setelah sadar ia berkata: ”Benarlah Allah dan Rasul-Nya. Lalu ia membaca firman Allah dalam surat11; Huud ayat 15-16 yang artinya: “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?”.


Mari kita bertanya kepada mata hati kita, apakah ia masih bisa menangis karena takut kepada Allah, atau ketika mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an, atau ketika dia telah menyadari banyak dosa dan kesalahan serta sudah tertipu oleh kehidupan dunia yang fana ini.

Rabu, 14 Oktober 2015

LAPANGNYA DADA KARENA HIDAYAH Q.S. 93; Adh-Dhuhaa dan 94; Asy-Syarh

LAPANGNYA DADA KARENA HIDAYAH

Q.S 93; adh-Dhuhaa
001. Demi waktu matahari sepenggalahan naik,
002. dan demi malam apabila telah sunyi,
003. Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu, 
004. dan sesungguhnya akhir itu lebih baik bagimu dari permulaan. 
005. Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.
006. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu.
007. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk.
008. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.
009. Adapun terhadap anak yatim maka janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.
010. Dan terhadap orang yang minta-minta maka janganlah kamu menghardiknya.
011. Dan terhadap ni'mat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).

Q.S. 94; asy-Syarh / Al-Insyiraah
001. Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?,
002. Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,
003. yang memberatkan punggungmu?
004. Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu. 
005. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
006. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
007. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, 
008. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.

Bersyukurlah bila dada telah dilapangkan untuk menerima Islam sebagai jalan hidup untuk meraih kebahagiaan yang sejati, karena sejak lama Allah telah meringankan beban berat yang membebabani punggung kita. 

Bukankah kita adalah orang yang tersesat kalau tanpa petunjuk-Nya,
Bukankan kita lahir telanjang sekarang kita punya pakaian.
Bukankah kita terlahir miskin sekarang kita sudah berharta. 
Bukankah Dia telah meninggikan derajat  kita senagai makhluk yang paling mulia
Semua itu tidak terlepas dari kemurahan dan kasih sayang Allah kepada kita walaupun terkadang kita masih bergelimang dengan dosa dosa.
Owlh karena itu jangan berhenti nebuat kebajikan karena Allah senantiasa berbuat baik kepada kita. andaipun ditemukan kesulitan pasti dibaliknya ada kemudahan. Lalu syukurilah berbagai karunia yang telah kita terima dan berbagilah dengan anak yatim dan fakir miskin, tetapi jangan sampai kita menganggap remeh dan menghardik mereka hanya karena kita telah memberi.

Ya Allah.hati ini selalu rindu hidayah-Mu. Bimbinglah kami dengan kasih dan sayang-Mu

BERSUSUN-SUSUN RASA SYURGA Q.S. 21; ayat 107

BERSUSUN-SUSUN RASA SYURGA

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Q.S. 21; ayat 107)

Setetes rezki yang disyukuri dan dibagikan
Seayat ilmu yang diamalkan dan diajarkan
Selembar sedekah yang diberikan dengan ketulusan
Sepatah kata maaf yang keluar dari kelapangan dada
Seulas senyum yang melegakan hati
Seikat tali kasih yang mempererat persaudaraan
Akan bertumbuh dan bertambah menjadi lapis-lapis keberkahan
Serta menetap dan mengekal dengan bersusun-susun rasa syurga
Setusuk dendam yang dikuburkan dalam-dalam
Secercah iri yang dihanyutkan ke laut lepas
Sebongkah benci yang dibuang ke tong sampah
Seluap amarah yang dipadamkan dengan air cinta
Akan menghapus luka-luka yang menggores di hati
Dan mererdam gejolak-gejolak yang menggoncangkan jiwa
Alangkah indahnya...
Mengemudi hati di jalan yang lurus bersama hidayah Allah, 
Menuju keridhaan-Nya yang berlimpah berkah dan penuh cahaya.
Dengannya manusia menuju keberuntungan menuai manfaat untuk dirinya dan membawa manfaat kepada orang lain, yang tampil di tengah tengah ummat membawa rahmat bagai permata yang berkilauan menyinari apapun yang ada disekitarnya.
Betapa indahnya menjalani hidup di lapis-lapis keberkahan,dengan mengambil teladan dari seorang lelaki yang namanya terpuji di langit dan dibumi,
Darinya kita belajar hidup yang paling indah, paling benar dan penuh makna.
Berbahagialah orang yang memandang bahagia itu bukan dari nikmat dan mushibahnya melainkan dari sudut pandang syukur dan shabarnya.
Bukan dari kaya atau miskinnya, tapi dari shadaqah dan do’anya.
Bukan dari sehat atau sakitnya, tapi dari tafakkur dan zikirnya.
Bukan dari banyak atau sedikitnya, tapi dari ridha dan qana’ahnya.
Bukan dari tinggi atau rendahnya, tapi dari tazkiyah dan tawadhu’nya.
Bukan dari kuat atau lemahnya, tapi dari adab dan akhlaknya.
Bukan dari sempit atau lapangnya, tapi dari zuhud dan wara’nya.
Bukan dari sukar atau mudahnya, tapi dari amal dan jihadnya.


MASIH ADAKAH SAHABAT Q.S 49; AL-HUJURAAT AYAT 10 - 13




MASIH ADAKAH SAHABAT 

Yang belas kasihnya menghangatkan hati
Yang sapaan akrabnya melipur lara
Yang uluran tangannya mengobat luka
Yang tatapan matanya melapangkan dada
Yang senyum manisnya menghembuskan kesejukan 
Yang tawa rianya melegakan rasa
Yang tutur katanya menerangi sukma
yang selalu berbagi suka dan duka
Yang tak hentinya menebar kasih pada sesama
Yang menjadi sahabat hati dunia akhirat


010. Sesungguhnya orang-orang mu'min adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.

011. Hai orang-orang yang beriman janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain (karena) boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok) dan jangan pula wanita-wanita (mengolok-olok) wanita-wanita lain (karena) boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olok) dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan janganlah kamu panggil memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.
012. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

013. Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.


Nabi kita Muhammad SAW memberikan gelar SAHABAT sebagai gelar kehormatan kepada orang orang yang berteman dengannya, dan menerima ajakannya untuk menjalani hidup di lapis lapis keberkahan, dengan menghidupkan rasa cinta dan kasih sayang karena Allah. Menghidupkan hati yang mati dan membeku, menerangi jiwa yang gelap, menenangkan hati yang galau, memacu semangat berjuang dan rela berkorban untuk sahabat.
Sahabat Nabi terdiri dari aneka warna kulit, beragam suku dan bahasa, mewakili berbagai status social. Tapi mereka bisa menyatu dengan jiwa penuh mesra dalam pergaulan, satu kata dan satu langkah, satu dalam tujuan yang mengacu kepada kebenaran yang diturunkan oleh Allah yang Maha Esa. Mereka nikmati bersama sama Indahnya hidup dijalan hidayah menuju keridhaan-Nya.



Alangkah indahnya persahabatan yang tak terhalang oleh laut dan samudra
tak terdinding oleh gunung Fujiama dan Himalaya
kita bisa bercanda ria tanpa bertemu dan tatap muka di dunia maya
rasa hati berpadu tanpa membedakan pangkat dan tahta
Aneka warna kulit bahasa dan budaya menjadi satu
indah bagai pelangi di musim semi
dan hatipun jadi berbunga bunga 


Teman dan sahabat yang dengan penuh kasih dan cinta 
menaburkan nasehat-nasehat berharga
yang terinspirasi dari Al-Qur’an dan Sunnah, 
terasa begitu indah dan menyejukkan 
Bagaikan Permata dan mutiara berharga
Menenangkan pikiran dan menghanyutkan perasaan
Menghilangkan dahaga jiwa dan meneguhkan pikaran

Sahabat!  akan selalu memberi semangat agar tegar dalam berjuang 

dan  selalu fokus pada tujuan hidup yang haqiqi 
Semakin berat ujian yang dihadapi, 

tentu akan semakin tinggi tingkat pencapaian kita, apa bila kita bisa meloloskan diri


Tali persahabatan bisa menguat dan melemah, serta bukan tidak mungkin akan putus dan emmisahkan orang yang pernah hidup dengan kasih dan sayang. Untuk menjaga tali silatur-rahim agar tetap langgeng maka Allah membimbing kita agar menjauhi sifat-sifat negatif yang merusak persahabatan, seperti bom waktu yang memporak porandakan masyarakat atau bagaikan penyakit kanker ganas yang merusak organ tubuh manusia. Penyakit penyakit tersebut diungkap oleh Allah melalui firmannya yang indah di dalam surat 49; al-Hujuraat ayat 11 dan 12; penyakit-=penyakit tersebut adalah:


  1. todak boleh menghina, meremahkan atau memperoleok-olokkan orang lain
  2. tidak boleh saling mencela
  3. tidak boleh memberikan gelaran yang tidak baik
  4. tidak boleh berprasangka
  5. tidak boleh mencari-cari kesalahan orang lain
  6. tidak boleh bergunjing ayau menebarkan gossip




Semoga kita mampu menjadi sahabat-sahabat yang bisa mencontoh dan meneladani Nabi kita tercinta Muhammad SAW dalam menyambungkan tali persahabatan. Menjadi sahabat sejati yang membuat hidup menjadi lebih hidup. menjadi sahabat yang selalu menebarkan senyum, menyapa dengan santun dan memasyarakat salam sebagai do'a agar selamat dan selalu mendapat berkah.










Selasa, 13 Oktober 2015

BEROBAH DENGAN SEMANGAT HIJRAH Q.S. 9; AT-TAUBAH AYAT 20-22

BEROBAH DENGAN SEMANGAT HIJRAH
الـسـلا م عـلـيـكـم ورحـمـة الله وبركا تـه
Bangkitlah saudaraku
Berkibarlah panji agamaku
Dan jayalah tanah tumpah darahku
Jangan biarkan ibu pertiwi menangis pilu
Para sekutu budak nafsu sedang berpacu
begitu leluasa menginjak-injak hak asasimu
Selamat merayakan tahun baru 1437 Hijriyah
Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya, keridhaan dan syurga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya di sisi Allahlah pahala yang besar. 
(Q.S. 9; At-Taubah ayat 20-22)
Nabi Muhammad SAW telah membuktikan bahwa dengan melakukan hijrah yang diniatkan karena Allah semata, Allah telah membukakan kepadanya segala pintu kebaikan dan kesejahteraan serta berada di puncak kemenangan dan kekuasaan yang berlandaskan kejujuran, keadilan dan kebenaran.
Kalau kita mengamati penomena yang terjadi akhir akhir ini, maka tidak dapat dimungkiri lagi bahwa disetiap penjuru kita menemukan berbagai hal yang memprihatinkan yang membuat batin kita menjerit walau tanpa suara, menangis walau tanpa air mata. Betapa tidak, kita selalu disajikan tontonan dari orang orang yang berlomba lomba mengejar kenikmatan materil, tanpa memperdulikan moril, mencari hasil dengan cara usil yang membuat semuanya jadi komersil.
Dalam menghadapi perputaran roda zaman, masih banyak manusia yang terlena dalam perbuatan dosa, kalau kita carmati pembesar bangsa, setiap hari menelan mangsa, anak bangsa yang tak berdosa, tak pilih pusat kota atau pojok desa. Walaupun dosa enak dirasa, disangka madu taunya mengandung bisa, membuat hidup jadi tersiksa, badan jadi binasa, Itulah akibat bagi orang yang mati rasa.
Adalah pada tempatnya kalau dalam pergantian tahun ini kita mencoba mengoreksi diri dengan sejujur-jujurnya apakah bertambahnya usia kita membuat kita menjadi yang lebih baik dari hari kemarin atau malah lebih buruk atau tidak ada perobahan sama sekali.
Hijrah adalah berpindah kepada suasana yang lebih baik dengan meninggalkan segala yang bertentangan dengan kebenaran dan hak-hak asasi manusia. Berpindah dari mengejar keuntungan pribadi menuju kepentingan bersama. Dimana hukum tidak boleh membedakan antara kaya dan miskin atau antara pembesar dan rakyat biasa.
Hijrah adalah berpindah dari mabuk harta dan gila dunia menjadi orang yang menyadari bahwa dunia ini adalah tempat singgah sementara yang pasti akan kita tinggalkan.
Kita baru dinamakan hijrah kalau kita sudah mampu menjauhi segala yang dilarang oleh Allah, kita baru dikatakan mukmin kalau orang lain sudah aman dari gangguan dan kejahatan kita, dan kita baru dikatakan muslim kalau orang lain bisa selamat dari bahaya lidah dan gangguan tangan kita.
Kalau kita mau membuka mata hati kita, sungguh amat banyak, tanda tanda yang diberikan oleh Allah kepada kita agar kita mau berobah, namun kadang-kadang kecintaaan kepada dunia telah membutakan mata kita, dorongan hawa nafsu membuntukan otak kita dan tipuan syetan telah mematikan hati kita.
Kita harus selalu bekerja keras untuk melahirkan generasi pengganti yang dengan kekuatan imannya bersikap adil, jujur dan bertanggung jawab, yang berjiwa Qur’any. Yaitu generasi yang terdidik sejak usia dini untuk mencintai Al-Qur’an, senang belajar Al-Qur’an, rajin menghapal Al-Qur’an, mengerti maksud dan tujuan Al-Qur’an, serta terlatih mengamalkan A-Qur’an.

PERLINDUNGAN YANG AMAN DARI BERBAGAI KEJAHATAN Q.S. 113; AL-FALAQ

PERLINDUNGAN  YANG AMAN DARI BERBAGAI KEJAHATAN
Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul, dan dari kejahatan orang yang dengki apabila ia dengki". (Q.S. 113; Al-Falaq ayat 1-5)
Allah sebagai Tuhan Pencipta yang maha Mengatur seluruh Alam semesta dengan seteratur-teratunya menawarkan kepada kita perlindungan yang pasti dari berbagai hal yang menakutkan kita, yang kita tidak mengetahui dengan pasti kedatangan bahaya-bahaya yang selalu mengancam keselamatan kita, baik itu dari kekuatan makhluk yang bertebaran dimuka bumi ataupun dari kekuatan manusia yang berwatak jahat. Baik itu bahaya yang bias ditangkap oleh panca indra kita maupun bahaya yang bersifat tersembunyi yang sangat sulit untuk ditebak karena keterbatasan kita sebagai manusia.
Dengan penuh kasih sayang Allah yang maha Mengetahui lagi maha Perkasa dan maha Berkuasa atas segala sesuatu menawarkan kepada kita perlindungan yang kuat dari hal-hal yang ditakuti oleh manusia. Dikala kita merasa takut terhadap sesuatu maka Allah memerintahkan kepada kita memohon perlindungan hanya kepada-Nya saja, karena hanya Dialah yang maha melindungi,
Cara yang diajarkan oleh Allah kepada kita adalah dengan membaca surat al-Falaq dengan penuh keyakinan. Dan hasilnya MAKA Allah menjamin kita akan terlindungi dari bermacam macam kejahatan antaraq lain:
Pertama, dari kejahatan makhluk ciptaan Allah, apakah itu makhluk hidup seperti binatang darat dam laut yang bisa saja mencelakakan manusia karena buas atau berbisa, ataupun benda-benda mati yang membahayakan atau menebarkan racun yang tersebar dimana mana dan kita kadang-kadang tidak mengetahuinya.
Kedua, dari kejahatan malam dengan kegelapannya, dimana kita tidak bias melihat apa apa karena semuanya serba gelap. Bagi kebanyakan orang kegelapan itu adalah hal yang menakutkan, maka Allah mengajarkan agar kita berlindung kepada-Nya ketika kita tidak bias melihat sesuatu di waktu malamyang kadang kadang menyeramkan.
Ketiga, dari kejahatan orang-orang yang menggunakan ilmu sihir untuk mencelakakan kita. Sihir adalah jampi-jampi atau tangkal-tangkal yang digunakan untuk memalingkan hati seseorang menjadi saying atau benci atau untuk merubah dan merusak jasad orang yang disihir tersebut, sehingga orang yang benci berubah saying atau memisahkan orang yang sudah berkasih saying seperti menceraikan orang yang sudah menjadi suami isteri. Atau bias juga menyebabkan orang sakt dan sebagainya. Ada yang dilakukan dengan menggunakan mantra-mantra, ada yang menggunakan benda-benda tertentu, bahkan tidak jarang dilakukan dengan mempersembahkan sajian-sajian.
Karena sihir adalah perbuatan yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan tidak dapat diketahui oleh orang banyak serta membahayakan orang yang dituju oleh sihir itu, maka Allah memerintahkan manusia untuk berlindung kepada-Nya dari behaya perbuatan tukang-tukang sihir tersebut.
Keempat, dari kejahatan orang yang dengki kepada kita, apa bila rasa dengki itu muncul dalam hatinya. Dengki adalah perasaan iri yang disertai oleh tindakan negatif terhadap orang yang didengkinya seperti dengan memfitnah, menjatuhkan nama baik, menyerang, atau menghasut orang lain untuk menyerang, atau menginginkan agar orang yang didengkinya itu mendapat bahaya atau celaka, karena orang yang dengki biasanya tidak suka melihat orang lain lebih baik, lebih berhasil, lebih maju dan lebih berbahagia dari dirinya. Apakah itu melihat orang yang lebih cantik, lebih tampan, lebih kaya, lebih ta’at dan sebagainya. 
Kelima, dari kejahatan was-was atau bisikan syetan yang dikhususkan dalam surat an-Naas yang diturunkan bersamaan dengan surat Al-Falaq ini. Syetan akan selalu mencelakakan manusi melalui bisikan-bisikannya ke dalam hati manusia, kalau kita tidak menyadarinya maka kita akan didorongnya kepada kecelakaan dan kejahatan. Dia tidak pernah berhenti dan tidak pernah lelah untuk menyesatkan manusia dengan berbagai cara, dan mampu memperdaya manusia melalui harta bendadan anak isteri serta melalui jabatan dan kedudukan.
Semoga kita menjadi orang yang benar-benar meyakini bahwa hanya kepada Allah kita memohon perlindungan dari bahaya-bahaya yang mengancam keselamatan kita, dengan keyakinan yang mengantarkan kita kepada keredhaan Allah untuk selalu melindungi hamba-hanbanya yang selalu mendekatkan diri kepada-Nya.

Senin, 12 Oktober 2015

TERAPI MANDIRI TERHADAP GANGGUAN KEJIWAAN Q.S 91 Asy-Syams ayat 7-10

TERAPI MANDIRI TERHADAP GANGGUAN KEJIWAAN 

Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Q.S 91 Asy-Syams ayat 7-10)

DR Zakiah Daradjat menjelaskan bahwa ada sesuatu yang unik dalam terapi psikologi Islam yaitu kemungkinan adanya self terapi, yaitu penyembuhan gangguan kejiwaan tanpa melalui konselor atau psikoterapis, cukup dengan melaksanakan petunjuk Islam yang diketehui dan mengamalkannya.
Bekal utama dari seorang yang ingin mengatasi gangguan jiwa atau masalah yang menimpa dirinya adalah keimanan yang teguh, ibadah dan pemahaman yang tepat dan memadai tentang ajaran Islam, disamping itu harus memiliki sifat sabar, tawakkal, rasa syukur dan menyadari kelemahan dirinya dengan melakukan tobat nasuha.

Ada beberapa prinsip dan sikap yang harus dipegang teguh dan dijalankan dengan sebaik-baiknya agar seseorang terhindar dari gangguan kejiwaan dan sekali gus akan mendapatkan ketentraman hati yaitu:

1. Prisip Tauhid
Untuk menghadapi persoalan-persoalan yang rumit dalam menjalani kehidupan ini, maka keyakinan kepada Allah adalah merupakan sendi utama, kita harus meyakini Kemahabesaran Allah yang maha Pengasih lagi maha Penyayang, dimana kita harus yakin bahwa diri kita adalah termasuk yang disayangi Allah. Di dalam jiwa kita harus tertanam bahwa pada hakikatnya Allahlah yang menghidupkan dan mematikan kita, Dialah yang Melapangkan dan Menyempitkan rezki kita dan Menjamin makan dan minum kita, Dia pulalah yang Menyembuhkan segala macam penyakit, dan hanya Dia yang mampu Memberi petunjuk kepada orang-orang yang dikehendaki-Nya. Segala sesuatu yang terjadi pada diri kita atas izin dan kehendak-Nya, dan kalau kita mengiginkan suatu perobahan kearah yang kita senangi hanya Dia yang mampu merealisasikannya. Beruntunglah orang yang mempunyai keyakinan seperti ini karena keyakinan ini akan memandunya untuk menyelesaikan persoalan hidupnya dan menghilangkan kegelisahan hatinya. Kalau Allah menghendaki dan sudah merestui sesuatu akan terjadi pada diri kita, maka apapun bisa terjadi pada diri kita. Jiwa tauhid adalah kekuatan ampuh yang ada di dalam diri manusia.

2. BERSIKAP SABAR
Kenyataan hidup sehari-hari tidak selamanya menyenangkan ada yang sesuai dengan harapan dan keinginan kita dan ada pula yang tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Penyebab kegagalan itupun bermacam-macam, ada yang disebabkan oleh keterbatasan kemampuan kita dan ada pula yang disebabkan oleh orang lain yang bergaul dengan kita, seperti anak, isteri, teman dan rekan kerja atau lingkungan alam yang tidak sesuai dengan perkiraan kita, Kadang kadang begitu sulit untuk menghadapinya, sehingga seolah-olah kemanapun pergi selalu ada hambatan, bahkan kadang-kadang terasa segala pintu yelah tertutup. Dalam keadaan yang demikian seorang yang beriman harus ingat akan petunjuk Allah yang menyuruh kita untuk bersikap sabar dalam menjalani dengan keyakinan bahwa dalam setiap kesulitan pasti ada kemudahan dan dibalik setiap pendakian pasti ada penurunan, bahkan tidak ada masalah yang tidak ada jalan keluarnya bila dihadapi dengan penuh kesabaran.
Di dalam Al-Qur’an Allah menyuruh kita untuk menjadikan sabar dan salat sebagai penolong, walaupun itu adalah berat terasa kecuali bagi orang-orang yang benar-banar khusuk dan yakin bahwa semua itu adalah ujian yang datang dari Allah dan Allah telah berjanji bahwa dengan kesabaran Allah akan memberikan hasil yang jauh lebih baik dari kesulitan dan panderitaan yang kita alami. Allah berjanji akan selalu menyertai orang-orang yang bersabar. Dan Allah akan menyayangi orang-orang yang bersabar. Dan hasilnya sabar itu akan menjadi indah karena sabar itu adalah pelita hati.
DR Zakiah Daradjat menegaskan bahwa Sabar akan menjadi obat bagi gangguan kejiwaan, sabar juga dapat mencegah agar tidak terserang oleh gangguan kejiwaan serta dapat meningkatkan kesehatan mental. Dimana ketika mampu bersabar akan hilanglah kegelisahan dan kegalauan hati, akan terjauh dari rasa putus asa, karena kita meyakini bahwa semua itu adalah cobaan yang diberikan oleh Allah untuk meningkatkan kwalitas iman kita dan ujian yang diberikan sebelum Allah merealisakan keinginan keinginan kita
Bila seseorang tidak sabar, maka ia akan mudah tersinggung, cepat marah dan putus asa dan selalu dihantui oleh perasaan cemas dan galisah. Karena tidak sabar akan mudah terjadi pertengkaran, permusuhan bahkan pembunuhan. Karena tidak sabar terjadilah pertikaian di tengah-tengah keluarga bahkan tidak jarang berujung kepada perceraian. Karena tidak sabar banyak orang yang akhirnya melakukan kejahatan dan melanggar ajaran agama.
Semoga kita menjadi orang yang selalu melatih diri untuk menjadi orang yang sabar ketika kita mendapat gangguan orang, ditakuti, atau disinggung harga diri kita, atau ketika hak kita dicurangi oleh orang lain, dan Allah mengingatkan bahwa bersabar itu adalah termasuk hal yang berat, tapi sangat mungkin untuk dijalani.

3. BERSYUKUR
Syukur adalah rasa senang ketika menpapat nikmat baik sedikit ataupun banyak dengan mengucapkan alhamdulillah tanda kita gembira walaupun nikmat itu sedikit, rasa senang itu akan membuat hati gembira dan dada terasa lapang, karena berarti usaha yang dilakukan tidak sia-sia, dengan leganya hati maka maka pikiran akan dapat bekerja dengan baik dan mampu mengolah yang lain, maka kehidupan akan menjadi rantai keberhasilan yang membawa kepada kebahagiaan. Andai terjadi kegagalan, maka hati yang lega dapat mendorong pikiran untuk menganalisa kegagalan itu dan akan menemukan penyebabnya, dengan demikian kegagalan berikutnya dapat dihindari dan hatipun akan bersyukur lagi karena memperoleh pelajaran dari kegagalan tersebut.
Hal ini sesuai dengan janji Allah di dalam Al-Qur’an, Jika kamu bersyukur maka pasti Allah akan melipat gandakan rezkinya kepada kamu, dan jika kamu tidak mau bersyukur atau mengingkari ketentuan Allah, maka azab Allah akan sangat pedih kepada orang yang tidak mau bersyukur itu.
Penyebab orang tidak mau bersyukur adalah karena keinginan dan kebutuhannya banyak dalam kehidupan, tidak rela dengan yang sedikit, sehingga ia tak pernah merasa puas dan tidak mensyukuri apa yang telah dia dapatkan. Orang seperti ini, berapapun harta yang dimilikinya, tetap tidak akan pernah merasa cukup dan tetap berusaha mencari tambahannya, namun dia tidak pernah gambira dengan apa yang telah dicapainya dan akan selalu gelisah hatinya karena belum mendapatkan semua keinginannya, ia akan seperti orang yang meminum air laut yang semakin diminum akan semakin haus. Makanya Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa orang yang tidak mampu mensyukuri nikmat yang sedikit maka dia tidak akan mampu pula mensyukuri nikmat yang banyak. Karena keinginan hawa nafsu maka walaupun seandainya seseorang telah memiliki dua lembah emas, tentu dia akan selalu gelisah karena ingin mendapatkan satu lembah emas lagi. Dan dia baru akan berhenti kalau mulutnya telah disumbat dengan tanah karena ajal telah menjemputnya.
Semoga kita termasuk orang yang bersyukur terhadap nikmat yang sedikit, sehingga dengan rasa syukur itu dari hari kehari nikmat itu selalu bertambah dan bertambah, hatipun menjadi lega dan pikiran akan selalu terbuka maka kita akan sukses meraih kebahagiaan.

4. TAWAKKAL KEPADA ALLAH
Tawakkal artinya berserah diri kepada Allah, ia mengandung makna penerimaan sepenuhnya terhadap kenyataan diri dan hasil usahanya sebagaimana adanya, atau dengan perkataan lain mampu diri dengan diri sendiri atau mampu menerima kenyataan di apa adanya. 
Tawakkal adalah salah satu cara untuk meraih ketentraman batin. Orang yang tidak mau atau tidak bisa menerima dirinya sebagaimana adanya maka ia akan merasa tertekan, gelish, cemas, mudah tersinggung dan sangat mungkin akan terserang gangguan kejiwaan.
Sebagai contoh seorang yang merasa dirinya kurang tampan atau cantik, apakah karena kulitnya hitam atau hidungnya pesek, atau karerna badannya terlalu gemuk atau terlalu kurus yang menyebabkan dirinya merasa kurang atau kurang percaya diri merasa tidak dihargai orang lain dan mudah tersinggung. Orang seperti ini dapat dikatakan tidak mampu menerima dirinya sebagaimana adanya, atau tidak mau menyerah kepada Allah (tidak tawakkal)
Banyak orang yang mengalami kegagalan dalam usaha mencari nafkah, mencari pekerjaan, menuntut ilmu, atau mencari jodoh, karena usaha kerasnya dianggapnya tidak menemukan hasil maka ia kecewa serta lupa menyerahkan urusannya kepada Allah akhirnya ia larut dalam keputus asaan.
Kita sering mendengar orang berkata “tawakkal sajalah” seolah-olah orang tersebut menyerah saja kepada Allah tapi tanpa berusaha. Padahal tawakkal itu adalah menyerahkan urusan yang dihadapi kepada Allah dengan sepenuh hati, tanpa ada keraguan sedikitpun, setelah usaha dilakukan dan segala pertimbangan sudah dibuat, maka dengan ketetapan hati kita melaksanakannya lalu kita bertawakkal kepada Allah.
Allah berfirman dalam surat 3; Ali Imran ayat 159 yang artinya “Apa bila kamu sudah membulatkan tekad untuk melakukan sesuatu setelah melakukan pertimbanyan yang matang, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal.”
Semoga kita termasuk orang yang disayangi Allah karena tawakkal kita dan termasuk orang yang dijamin oleh Allah untuk tercapainya segala urusannya. Karena Allah telah menjamin bahwa orang-orang yang bertawakkal akan tercapai usahanya dangan sebab bertawakkal itu.


5. TAUBAT NASUHA
Merasa diri bersalah merupakan salah satu penyebab gangguan kejiwaan, untuk menanggulanginya seseorang harus merasa bahwa kesalahannya itu telah dimaafkan, banyak orang yang merasa sangat menderita ketika ia merasa dirinya berdosa, bila perasaan ini dibiarkan berlarut-larut orang ini akan mengalami gangguan kejiwaan dengan berbagai gejala antara lain yang dikenal dengan psikosomatik, yaitu penyakit tubuh yang disebabkan oleh kegoncangan jiwa seperti lumpuh pada salah satu anggota tubuh, hilangnya kemampuan melihat walaupun matanya tidak sakit atau rasa takut yang tidak beralasan.
Agar kegoncangan jiwa itu tidak bertambah berat harus ada tempatnya mengadu dan memohon pertolongan. Tempat mengadu itu hanya satu yaitu Allah SWT, Tuhan yang maha Kuasa atas segala sesuatu, maha Pengasih lagi maha Penyayang, maha Pengampun dan Penerima taubat.
Agama Islam mengajarkan apabila sesorang melakukan kesalahan maka orang tersebut harus memohon ampun kepada Allah, bahkan setiap orang beriman dianjurkan memohon ampun kepada Allah baik ia merasa bersalah atau tidak bersalah, karena tidak selamanya orang sadar atas perkataan, perbuatan dan kelakuannya. Allah telah berjanji untuk menerima taubat siapapun juga, sebanyak apapun kesalahannya, dengan syarat dilakukan dengan kesadaran yang sungguh-sungguh dan bertekad tidak akan mengulangi lagi kesalahan itu, taubat seperti ini dinamakan dengan taubat nasuha.
Kelapangan dada akan terasa apa bila seseorang telah berhasil mengungkapkan segala perasaan yang menekan selama ini, apalagi kalau itu diungkapkan kepada Allah melalui taubat nasuha tanpa ada orang lain yang melihat, perasaan akan lega, kemampuan berpikir tumbuh kembali, dan urat-urat syaraf berpungsi dengan wajar, muka akan kembali ceria , karena telah terbebas dari beban perasaan yang menghimpit selama ini akibat dosa yang dilakukan.
Allah memang marah kepada orang yang berdosa, tetapi Allah tidak pernah marah kepada orang-orang yang bertaubat, malah sebaliknya Allah akan menyayangi orang-orang yang bertaubat dan selalu akan bersama dengan orang-orang yang bertaubat “Innallaaha yuhibbut tawwaabiina wayuhibbul mutathahhiriin” yang artinya sesungguhnya Allah menyayangi orang-orang yang bertaubat dan menyayangi orang-orang yang mensucikan diri.
Semoga di dalam hati sanubari kita selalu ada kesadaran untuk mengakui kesalahan yang pernah kita lakukan, lalu memohon ampun kepada Allah dan berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, supaya kita tidak dikejar-krjar oleh dosa dan terhindar dari gangguan kejiwaan atau tertekan batin.

6. SELALU MENGINGAT ALLAH 
Orang-orang yang beriman hati mereka akan selalu tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah hati akan menjadi tenteram (Q.S. 13; Ar-Ra’d ayat 28).
Bukankah ingat itu tanda adanya cinta dan cinta itu adalah sumber ketenangan dan kebahagiaan.
Salah satu cara untuk menenangkan hati yang gundah dan menentramkan jiwa yang gelisah adalah dengan mengingat Allah, dengan keyakinan bahwa segala sesuatu yang kita alami adalah merupakan ketentuan dan ketetapan dari Allah, dan Allah tidak pernah menetapkan hal yang tidak tepat terhadap hamba-Nya, kalau ada sesuatu yang tidak kita senangi belum tentu itu tidak baik bagi kita karena bisa saja kita membenci sesuatu padahal sesuatu yang kita benci itu sebenarnya akan membawa keberuntungan kepada kita. Dan bisa saja kita menyukai sesuatu padahal hal yang kita sukai itu akan membahayakan kita. Allah yang Maha Mengetahui, lagi maha bijaksana telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik kejadian dan telah Menciptakan segala sarana untuk meraih apapun yang kita butuhkan. Allah telah menetapkan manusia sebagai makhluk yang paling mulia dan memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada kita untuk mengadukan segalah keluhan jiwa kita kapanpun kita menginginkannya, dan Berjanji akan memberikan apapun yang kita minta dan kapanpun kita mengajukan permintaan. Tentu saja harus diiringi keyakinan bahwa Dialah Yang Menciptakan dan mengajari kita bagaimana cara hidup yang benar dan baik, Dialah yang Menghidupkan dan Mematikan kita, Dialah yang Memberi makan dan Memberi minum kita, dan Dialah yang Menyembuhkan penyakit yang kita derita, setelah kita berusaha sesuai dengan kemampuan kita. Ditangan-Nyalah segala keputusan tentang hidup kita, dan apa bila ia menghendaki sesuatu maka Dia cukup dengan mengatakan “Kun” maka terjadilah apa yang dikehendakinya itu. 
Dalam keadaan bagaimanapun kita harus selalu ingat dan menyandarkan urusan kita kepada Allah, dalam keadaan susah dan sulit kita mengingat Allah yang maha Menolong dan Melindungi, dengan itu kita akan terjauh dari kegelisahan jiwa, kekecewaan dan keputus asaan. Ketika mendapat nikmat kita ingat kepada Allah yang memberi nikmat itu, dan kita tidak menjadi otang sombong dan membanggakan diri sebagai salah satu penyakit jiwa yang menyebabkan kita dijauhi oleh orang lain. Ketika kita melakukan dosa, kita ingat Allah, maka kita langsung memohon ampun kepada-Nya, maka legalah hati kita dan jiwapun menjadi tenang.
Semoga kita termasuk orang Islam yang menjalani hidup ini dengan ketenangan hati luar biasa, ketika dapat kesulitan mengingat Allah dengan bersabar. Ketika mendapat nikmat dan kesenangan mengingat Allah dengan penuh rasa syukur. Dan ketika melakukan kesalahan mengingat Allah dengan beristighfar. 

PESONA ULUL ALBAB (1) Q.S.65 Ath-Thalaq ayat 10-11

ULUL ALBAB (Bagian I) 

SUBHANALLAH !  INDAHNYA BEKAL TAQWA

Allah menyebut enam belas kali kata Ulul Albab dalam Al-Qur’an dengan penuh penghargaan, karena mereka memiliki kedalaman pemahaman. 
Dalam diri mereka bersenyawa ilmu sejati,
Dalam jiwa mereka bersemayam Khazanah suci, 
Maka dari lisan mereka hikmah tumpah ruah,
Maka dalam perbuatan mereka teladan bersinar-sinar,
Ulul Albab adalah sebutan indah untuk para pemikul pengetahuan hakiki.
Menurut Ibnu Katsir Ulul Albab adalah para pemilik akal yang sempurna dan bersih, yang memahami hakikat berbagai hal secara nyata dan benar, yang mengambil sikap secara jelas dan terang, serta bertindak secara tepat dan bermanfaat. Mereka mempunyai hati yang berzikir dan berpikir secara terus menerus lagi mendalam.
Ulul Albab adalah para pemilik kedalaman berpikir, beriman kepada Allah. Dalam iman itu mereka takut akan azab Allah yang akan menimpa kaum pendurhaka, berbagai kejadian masa lalu menjadi cermin yang direnungkan. Tidaklah mereka melakukan perjalanan dan melewati tempat tinggal dari kaum yang pernah dibinasakan, melainkan bergetar hati mereka dan bertambah ketundukannya.
Allah berfirman:"Allah menyediakan bagi mereka azab yang keras. Maka bertaqwalah kepada Allah wahai Ulul Albab, Yaitu orang-orang yang beriman. Sesungguhnya Allah telah menurunkan peringatan kepada kalian. (dengan mengutus) seorang Rasul yang membacakan ayat-ayat Allah kepadamu yang menerangkan (bermacam-macam hukum) agar Dia mengeluarkan orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dari kegelapan kepada cahaya. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah dan mengerjakan amal shaleh, niscaya Dia kan memasukkannya kedalam surga-surga yang mengalirdi bawahnya sungai-sungai mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sungguh Allah memberikan rezki yang baik kepadanya". (Q.S.65 Ath-Thalaq ayat 10-11)
Melalui ayat ini Allah memerintahkan Ulul Albab untuk meningkatkan ketaqwaannya dengan menata imannya yang berpedoman kepada kitab yang telah diturunkan oleh Allah yang berfungsi untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya yang akan menuntun mereka menuju sorga. mengeluarkan mereka dari gelapnya kafir kepada terangnya iman dari gelap gulitanya jahiliyah kepada terangnya Islam, dari gelap gulitanya musyrik kepada terang benderangnya tauhid, dari gelap gulitanya maksiat kepada terang benderangnya taat 

latar belakang perintah bertaqwa dalam ayat ini berhubungan dengan ayat sebelumnya  (ayat 8 dan 9) yang memerintahkan kita untuk memperhatikan betapa banyaknya negri yang telah dibinasakan oleh Allah disebabkan oleh keingkaran  mereka kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya, mereka berbuat sekehendak hatinya memperturutkan hawa nafsunyam tidak mau mengerjakan perintah dan menjauhi larangan, suka menipu dan menganiaya yang lemah, senang bejudi, berzina, dan memakan harta yang haram dengan cara mencuri dan merampas. dengan sebab itulah Allah membalas kezaliman mereka dengan balalan yang setimpal dan memberikan hukuman berdasarkan perhitungan yang sangat teliti sehingga kecurangan itu mendapatkan ganjaran yang setimpal di dunia ini.

Bahwa perbuatan yang tidak berdasarkan taqwa kepada Allah dan tidak menurut ajaran yang dibawa oleh Rasul akhirnya akan membawa bencana yang buruk bagi masyarakat di dunia ini, seperti hilangnya keamanan dan kedamaian, segala rencana digagalkan Allah, bahkan musibah datang bertubi-tubi, hasil buni tidak lagi berkah, yang kaya benci dan menjauhi yang miskin, dan yang miskin menaruh dendam kepada yang kaya. dan lain lain.

sementara dalam ayat 2 dan 3 dari surat Ath-Thalaq ini Allah telah memastikan bahwa siapaun yang telah bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar dari kesulitan-kesulitan yang dihadapinya, dan Allah akan memberikan kepadanya rezki dengan cara yang tidak pernah diuga-duga, Dan barang siapa yang bertaqakkal kepada Allah maka sikap tawakkal itu akan menyebabkan terjamin segala urusannya dan akan mencapai apa yang diinginkannya.










PESONA ULUL ALBAB (2) Q.S. 12, Yusuf ayat 111

PESONA ULUL ALBAB (Bagian II / dua) 

BELAJAR DARI SEJARAH MASA LALU

Sesungguhnya pada kisah kisah para Nabi dan orang-orang yang telah berlalu, yang diceritakan dalam Al-Qur’an terdapat pengajaran bagi Ulul Albab. Al-Qur’an bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi dia adalah kitab yang membenarkan kitab-kitab yang telah turun sebelumnya, dan menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. (Q.S. 12, Yusuf ayat 111)
SHADAQALLAHUL ‘AZHIIM. Maha cenar Allah dalam segala firman-Nya.
Ulul Albab adalah orang-orang yang selalu bersemangat menyimak sejarah dan kisah masa lalu,sebagaimana wahyu Allah yang banyak mengandung cerita tertentu. Maka Ulul Albab menjadikannya sebagai pelajaran penting tentang iman dan ingkar, tentang taat dan maksiat, bagaimana Allah selalu menjayakan orang-orang yang beriman dan merendahkan orang-orang ingkar.
Cerita sejati dari kisah nyata yang diambil ibrahnya oleh Ulul Albab, dari kisah kisah Al-Qur’an, yang membenarkan cerita-cerita dari kitab terdahulu, Dimana Al-Qur’an itu juga menjelaskan segala sesuatu, menjadi petunjuk dan rahmat, dan dengan itu Ulul Albab akan menemukan jalan mulia walaupun di dalam sempitnya mushibah yang menghadang, apa lagi dalam kelapangan nikmat uang melimpah ruah.
Ulul Albab belajar dari Nabi Adam dan Hawa, melalui kecemerlangannya, ketergelincirannya , taubatnya dan hari-hari awalnya yang tak mudah hidup di bumi.
Ulul Albab belajar dari Nabi Nuh, Hud Shalih dan Luth tentang keteguhannya, pengabdiannya, dakwah siang malamnya, , cinta, tangis dan kepasrahannya.
Ulul Albab belajar dari Nabi Ibrahim, Isma’il, Ishaq, Hajar dan Sarah tentang ketabahan, dahsatnya ujian, kebapakan, kepatuhan anak, kemanusiaan dan cinta kasih.
Ulul Albab belajar dari Kekuasaan, dan kekayaan di jalan raya Nabi Sulaiman, dari sempit sakitnya pematang Nabi Ayyub, dan kegagalan Nabi Yunus.
Ulul Albab belajar dari Nabi Yusuf bagaimana didengki sebab punya kelebihan, digoda karena memiliki keunggulan, rela dipenjara untuk menjaga kesucian.
Ulul Albab mengambil ibrah dari semua bentang kisah dan sejarah, agar bisa melangkah dalam hidayah, menuju arah yang cerah, meski terkadang tetap ada rasa gerah.

PESONA ULUL ALBAB (3) Q,S.3 Ali Imraan ayat 190-191

PESONA ULUL ALBAB (Bagian III / tiga) 

SELALU BERZIKIR DAN BERPIKIR
TIDAK ADA CIPTAAN ALLAH YANG SIA-SIA
Sesunggauhnya dalam penciptaan langit dan bumi, juga silih bergantinya malam dan siang, sungguh terdapat banyak sekali tanda-tanda bagi Ulul Albab. yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, dudul dan berbaring. Dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata:”Duhai Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini semua dengan sia-sia. Maha Suci Engkau. Maka peliharalah kami dari siksa api neraka. (Q,S.3 Ali Imraan ayat 190-191)
LUAR BIASA ! Kata Ulul Albab dalam ayat ini mengisyaratkan kepada orang-orang yang seluruh aktifitas kehidupannya, baik ketika berdiri, duduk,dan berbaring selalu bernuansa zikir dan tafakkur, apa yang Nampak biasa saja bagi orang lain, bagi mereka adalah penuh dengan makna. Apa yang menjadi rutinitas bagi orang lain, bagi mereka adalah penuh arti. 
Seorang Ulul Albab akan selalu berkata kepada benda apapun yang menjadi ciptaan Allah ada guna dan manfaatnya. Tidak ada ciptaan Allah yang percuma dan sia-sia.
Seorang Ulul Albab akan selalu memadukan zikir dan fikirnya, yang menghasilkan kesimpulan bahwa pergantian siang dan malam menyampaikan pesan ke-Maha Kuasaan Allah yang Maha Mengatur dengan sebaik-baik pengaturan.
Zikir dan pikirnya Ulul Albab melahirkan rasa yang menggetarkan hatinya, mengalir pada aliran darahnya, merasuk sampai ketulang sumsumnya. Menjadi gelora iman yang menggerakkan otot dan tulangnya untuk menjadi mashlahat bagi seluruh manusia.
Rasulullah SAW sampai bercucuran air mata ketika menerima ayat ini dari Malaikat jibril karena kedahsyatan ayat ini menggugah manusia agar menjadi Ulul Albab yang hasil renungannya terhadap ciptaan Allah adalah pengakuan yang tulus untuk mengikuti seruan seruan keimananan, dimana dalam menjalani keimanan itu diawali dengan permohonan yang sungguh-sungguh agar semua dosa yang terlanjur pernah dilakukan, diampuni oleh Allah dan setiap kesalahan yang pernah dibuat dihapuskan. Kemudian hidup diisi dengan menebarkan kebajikan sehingga kematiannya tercatat bersama orang yang baik-baik
Pada tahap berikutnya Ulul Albab adalah orang yang yakin betul terhadap janji-janji Allah dan menunggu dengan tabah dan shabar kedatangan janji-jianji itu Karena Allah tidak akan pernah melanggar janii janjinya ( karena Allah tidak pernah sama dengan para pejabat dan pemimpin yang sangat hobby mengingkari janji).
Ulul Albab adalah orang-orang yang meyakini bahwa setiap munajatnya kepada Allah dalam bentuk do’a dikabulkan oleh Allah. Allah tidak akan pernah mengabaikan sekecil apapun kebaikan yang kita lalukan tanpa membedakan laki-laki ayau perempun, baik dilakukan sendiri atau bersama-sama. Walaupun iman itu menuntutnya untuk hijrah, atau jihad sekalipun dan bahkan disakiti atau kehilangan harta dan nyawa. Itu adalah dinamika iman. Sesuatu yang tak mungkin dipisahkan dari Ulul Albab yang melandaskan hidup pada iman. 
MASYA-ALLAH semoga Allah mengetuk pintu hati kita, lalu menyentuhnya, membelai dan membimbingnya menjadi salah seorang dari Ulul Albab.