Senin, 12 Oktober 2015

PESONA ULUL ALBAB (4) Q.S. 2. Al-Baqarah ayat 269


ULUL ALBAB (Bagian IV / empat) 

ANUGRAH HIKMAH

یُؤۡتِی ٱلۡحِكۡمَةَ مَن یَشَاۤءُۚ وَمَن یُؤۡتَ ٱلۡحِكۡمَةَ فَقَدۡ أُوتِیَ خَیۡرࣰا كَثِیرࣰاۗ وَمَا یَذَّكَّرُ إِلَّاۤ أُو۟لُوا۟ ٱلۡأَلۡبَـٰبِ
Artinya: "Allah menganugrahkan Hikmah kepada siapa yang dia kehendaki. Dan barang siapa yang dikaruniai hikmah, maka dia benar-benar telah dikaruniai kebaikan yang banyak. Dan hanya Ulul Albab yang dapat mengambil pelajaran. (Q.S. 2. Al-Baqarah ayat 269)

TABAARAKALLAHU AHSANUL KHALIQIIN.  Alangkah dahsyatnya Allah sebagai sebaik-baik pencipta.
Kali ini dalam membicarakan Ulul Albab kita berangkat dari Surat 2. Al-Baqarah ayat 269 yang menggandengkan kata Ulul albab dengan kata hikmah. Dimana Allah menghendaki bahwa Ulul Albab itu adalah ahli hikmah. Yang selalu bisa meletakkan sesuatu pada tempat yang benar. 
Yang setiap apa yang diucapkannya sesuai dengan perbuatannya
Yang mengetahui kebenaran dan mengamalkannya
Yang takut kepada Allah dalam ilmu dan amal shalehnya
Yang punya kecakapan dalam menyelesaikan berbagai persoalan secara benar
Yang setiap tindakannya merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah serta keteladanan dari Nabi bersar Muhammad SAW.

Ayat di atas berada pada lingkaran ayat ayat yang memerintahkan untuk mengifakkan harta yang paling baik dari yang kita miliki. Dan larangan untuk memberikan harta yang jelek, yang seandaikan kepada kita harta itu disedekahkan kita tidak kuat menerimanya kecuali dengan memicingkan mata, (karena jeleknya pemberian itu). Itu artinya bahwa seorang Ulul Albab adalah seorang ahli hikmah yang suka menginfaqkan yang terbaik dari apa yang ia miliki.
Hikmah itu membuat Ulul Albab memahami dan menekuni jalan kebenaran yang menuju kepada keridhaan dan terjauh dari tekanan hawa nafsu, 
Hikmah membantu Ulul Albab menata hubungan dengan Allah,  sehingga Allah membaikkan hubungan sesama mereka.
Di sinilah Ulul Albab itu menempati posisi utama di sisi Allah, di mana dengan Allah mengaruniakan hikmah kepadanya maka berarti Allah telah memberikan kepadanya kebaikan yang amat banyak. daripada ilmu, bahkan ujung daripada ilmu adalah
permulaan daripada Hikmah. Hikmah boleh juga diartikan mengetahui yang tersirat di balik yang tersurat, atau mencari yang rersembunyi di balik yang nyata, mengetahui akan kepastian ujung karena telah melihat pangkal. 

Dan kebaikan yang amat banyak itu bukan digunakan untuk kepentingan dirinya sendiri, melainkan sebesar-besarnya digunakan untuk kemashlahatan ummat dan kemajuan agama.

Dalam Tesis berjudul “Konsep Pendidikan Hikmah dalam al-Qur’an, UIKA Bogor 2016” Abd. Hafidh menyebut setidaknya ada 11 makna hikmah yang beririsan dalam al-Qur’an.

Pertama; kenabian dan kerasulan (an-nubuwah wa ar-risâlah),
kedua; tafsir (takwil) al-Qur’an (tafsir al-Qur’an wa ta’wiluhu), 
ketiga; memahami rahasia dan detail-detail syariat Islam (al-ilm wa fahm ad-daqa’iq wa al-fiqh fi ad-din), 
keempat; mengetahui kebenaran dan mengamalkannya (ma’rifatu al-haq wa al-amalu bihi), 
kelima; amal shalih (al-amal al-shalih), 
keenam; menghalangi kezhaliman (man’u azh-zhulm), 
ketujuh; nasihat dan peringatan (al-wa’zhu wa at-tazkir), 
kedelapan; ayat-ayat al-Qur’an, perintah-perintah dan larangan-larangannya (ayat al-Qur’an wa awamiruhu wa nawahihi), kesembilan, kemampuan akal memahami hukum-hukum syari’ah (hujjatu al-aql ala wifqi ahkam al-syari’ah), 
kesepuluh; meletakkan sesuatu pada tempat yang semestinya (wadh’u asy-syai’ fi maudhi’ihi), kesebelas; mengerjakan apa yang semestinya dikerjakan, di saat dan momen yang tepat.*

Dan Alangkah Indahnya kalau Allah menyinari hati kita dengan cahaya hikmah yang bukan hanya akan menerangi diri kita sendiri, tetapi sinarnya memancar ke seluruh penjuru Alam  karena Cahaya itu bersumber dari Cahaya di atas Cahaya.
(BERSAMBUNG…) 

Ahli hikmah akan bisa
melihat "cewang di langit tanda panas, gabak di hulu tanda hujan". Karena melihat alam maka ahli hikmah mengenal Tuhan.

Kekayaan yang sejati ialah hikmat yang diberikan Allah dalam bentuk kecerdasan akal, keluasan ilmu, ketinggian budi, kesanggupan
menyesuaikan diri dengan masyarakat; itulah kekayaan yang sangat banyak.

Allah memberikan hikmat 
Ibnu Abbas mengatakan:
43i7L46,^KA
"Hikmat itu ialah kesonggupon memahamkan al-Quran."
Artinya bila seseorang sudah dapat memahamkan (mem/iqhikan) dari
dalam al-Quran mana yang hudon (petunjuk) dan mana yang hukum, mana
yang disuruh (wajib) dan apa sebab wajibnya dan mana yang ditegah (haram)
dan apa sebab ditegah, lalu dapat membandingkan atau mengqiyaskan yang
/uru'(cabang) kepada yang oshol (pokok), itulah dia orang yang diberi hikmat.
Sebab itu maka orang yang oleh ahli Fiqhi disebut Muitahid, menurut tafsiran
Ibnu Abbas itu patutlah disebut al'Hakimiuga.
Untuk rnendekatkan perumpamaannya ialah laksana seorang sarjana yang
baru lepas dari sebuah Universitas. Dia telah lulus ujian dariberbagaimacam
mata pelajaran. Pada waktu itu sudah bolehlah dia disebut orang alim, seorang
yung t"rp"ngetahuan. Tetapi belum berhak dia disebut al-Hakim, atau Ahli
lfifmat. biu-butu akan berhak mendapat sebutan'ahli hikmat setelah dia
melakukan praktek kelak didalam bidang ilmu yang diketahuinya.itu' Setelah
dia bekerja dan beramal, akan didapatnyalah selama dalam perjalanan bebe-
rapa hikmat daripengalaman, yang tadinya tidak ada tertulis dalam buku dan
tidak didengar dari kuliah-kuliah yang diberikan oleh guru besar.
Sekarang bertemulah beberapa ayat yang menganjurkan memberikan
nafkah, meni'eluarkan hartabenda, membantu fakir-miskin. sampai dikatakan
bahwasanya orang yang menanamkan satu bili daripada sifat dermawan, kelak
akan tumbuhlah biji itu, dan dia akan berarai tujuh arai, dan satu arai akan
memberikan hasil 100 butir buah; yaitu menjadiT00 butir buah. satu menjadi
700.
Orang yang tidak diberi Allah hikmat, tidaklah lekas memahamkan itu.
sebab dia hanya mengingat kekurangan sekarang, bukan laba di hari depan.
perhatiannya tertumpih iepada benda yang akan hilang, bukan laba yang akan
datang.
tunan bersabda selanjutnya: "Dan barangsiapa yang diberihikmat, maka
sesungguhnya dia telah diberi kekayaan yang banyak'"
Ayat inimenuniukkan Kekayaan yang sejati ialah hikmat yang diberikan Allah dalam bentuk kecerdasan akal, keluasan ilmu, ketinggianbudi, kesanggupan
menyesuaikan diri dengan masyarakat; itulah kekayaan yang sangat banyak.
Betapapun oru,.,g n-l"r,judi kaya raya,iutawan yanghartabendanya berlimpah'
timpitr, t<atau dia tidak dianugerahi oleh Allah dengan hikmat, samalah artinya
dengan orang miskin. Sebab dia tidak sanggup dan tidak mempunyaipertim'
banlan yurrglihut, buat apa hartabendanya itu akan dikeluarkannya.
Di dalam segala zaman ada saja orang kaya yang tidak diberiAllah hikmat.
Dan di dalam segala zaman terdapat pula ahli hikmat, tetapi dia tidak kaya
tentang harta. Nama orang kaya raya yang tidak diberihikmat itu hilang setelah
dia mati, tetapi ahli-ahli hikmat kekal namanya jauh dan lama setelah dia mati,
karena bekai himkatnya masih dirasai orang. Tetapiada pula orang kaya raya
dengan hartabenda, diapun dianugerahi Allah hikmat. Lalu dikeluarkannyalah
hartla benda yang dipiniamkon Allah kepadanya itu semasa hidupnya untuk
jalan yang Uait<. h mana-mana bertemulah harta waqaf yang dia tinggalkan.
Anaknyalang shalih mendoakannya, shadaqah jariyah yang dia tinggalkan,
mengei.alkan nu-unyu dan ilmu pengetahuan yang dia ajarkan menjadikeka-
yuu,iyung tidak putus-putus dia mengambil hasilnya, walaupun tulangnya telah
berserak di dalam kubur.
,,Tetapi tidaklah akan ingat, melainkan orang-orang yans berfikiran da'
lam (yang mempunyai inti-fikiran)." (ujung ayat269)'
Orang yang mempunyai inti-fikiranlah cuma yang akan mengerti soal yang
penting ini. Orang yang fikirannya hanya terhadap mengumpulkan benda, yang
memandang bahwa kekayaan ialah kesanggupan mengumpul.harta belaka,
tidaklah akan mengingat ini. Tujuan hidupnya telah berkisar daripada Tuhan
kepada harta. Sebab itu maka hidupnya tidaklah akan memberi fadah dan
manfaat kepada sesamanya manusia dan hari depannyapun akan gelap-gulita.
Baik hari depan dunianya, apatah lagi hari depan akhiratnya.
Orang dapatlah selalu melihat orang-ora4g kaya raya mendirikan gedung-
gedung besar dan mewah, terdiri dari beberapa buah bilik dan kamar, tempat
dia bermewah dengan anak-cucu di kala hidup. Dia tidak pemah memperduli-
kan kesusahan orang lain, asal dia tetap senang. Tiba-tiba diapun mati. Tidak
berapa tahun kemudian, gedung mewah tqdi menjadi sepi, kehilangan se-
mangat. Anak-anak dan cucu-cucu tadi tela\ berserak-serak, terpisah jauh
dibawa untung masing-masing. Rumah gedung itu tidak terurus lagi. Untung
baik kalau dibeli orang lain, dan harga penjualannya dibagi-bagi oleh anakcucu,
atau dijadikan hotel tempat orahg bermalam, ataupun laksana pendopo atau
"siti hinggil" dari istana keraton Susuhunan diSolo ketika tafsir ini dibuat, yaitu
tempat menerima tetamu orang besar-besar di zaman dahulu,40 tahun yang
lampau, sekarang menjadi tempat tidur orang-orang "gembel" yang kehilangan
segala-galanya, tinggal hanya nyawa dan badan.
Fikirkanlah dengan dalam Hikmat ini!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar