Minggu, 11 Oktober 2015

PESONA ULUL ALBAB (9) Q.S. 39; Az-Zumar ayat 21

PESONA ULUL ALBAB (Bagian IX / sembilan)
HATIKU HANYUT TERBAWA ALUNAN CERITANYA
Apakah engkau tidak memperhatikan bahwa Allah telah menurunkan air hujan dari langit, lalu diatur-Nya menjadi sumber-sumber air di bumi (dalam bentuk sungai, sumur , danau yang indah, telaga yang tenang, Air terjun yang mempesona, dan mata air yang jernih), kemudian dengan air itu ditumbuhkan-Nya tanam-tanaman yang bermacam-macam warnanya, kemudian menjadi kering,lalu engkau melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikannya hancur berderai derai. Sungguh pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi Ulul Albab (Q.S. 39; Az-Zumar ayat 21)
Cobalah amati ayat ini dengan mata hati yang rindu hidayah, betapa indahnya rangkaian kata-Katanya, dan alangkah dalam maknanya. Betapa Allah telah menurunkan air hujan yang bersih dari langit untuk memenuhi kebutuhan pokok manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan. yang diangkat-Nya dari air laut yang asin dengan menggunakan energy matahari, lalu didistribusikan ke tempat tempat yang membutuhkan dengan menggunakan energy angin, kemudian dirurunkan dengan ukuran yang sangat ideal untuk tidak merusak apapun yang dikenainya. Bayangkan saja seandainya hujan itu turun sebesar besar drum pasti manusia akan mati ditimpa olehnya. Allahu Akbar.
Allah menurunkan hujan sebagai rahmat-Nya adalah untuk memenuhi kebutuhan makhluk ciptaan-Nya antara lain untuk menumbuhkan tanam-tanaman yang beraneka warna dan rasa, beragam bentuk dan ukurannya, tatapi karena dia ciptaan atau makhluk maka dia akan berproses, dari tunas / biji lalu tumbuh batang, bercabang, berdaun, berbunga, berputik lalu menjadi buah, buah itupun membesar, matang dan masak tetapi akhirnya akan busuk dan hancur berkeping keping. Dari sini kita dapat mengambil pelajaran bahwa betapapun hebat dan mengagumkan ciptaan Allah pada akhirnya akan menjadi hancur. Sebagaimana manusia yang hidup di dunia ini berasal dari setetes air, kemudian akan singgah di dalam rahim selama lebih kurang Sembilan bulan, kemudian lahir kedunia, tidak membawa apa apa dan tidak tahu apa apa, bayi itu akan tumbuh dan berkembang dengan kuasa Allah menjadi anak kecil, remaja, dan dewasa, lalu tua dan akhirnya akan meninggal dunia. Kebesaran, kemuliaan dan kekayaan, kejayaan tidak akan bertahan selamanya dan akan ditinggalkan begitu kita meninggal dunia.
Ulul Albab adalah orang yang selalu mengambil pelajaran dari fenomena dan pesona Alam ciptaan Allah yang penuh dengan pelajaran Karena itu Ia yakin seyakin-yakinnya, lalu hatinya terbuka menerima Islam sebagai jalan hidup yang penuh dengan cahaya, menjadi orang pertama menerima Islam dengan hati yang tulus dan jiwa yang lurus. Hatinya bergetar mendengar nama Allah, bulu romanya merinding merasakan kebesaran Allah , lalu ia begitu khusu’ dalam beribadah kepada-Nya, rasa Harapnya begitu besar kepada rahmat dan kasih saying Allah dan Jiwanya amat takut ketikamembayangkan betapa dahsyatnyaAzab Allah.
Adapun hati yang keras dan membatu akan tetap berada dalam kegelapan yang berlapis-lapis bagai orang yang tenggelam di malam yang kelam ditimpa ombak dan ditimpa lagi ombak diatasnya , karena gelapnya untuk melihat tangannya sediri dia tak bisa.
Surat 39; Az-Zumar menimpan tiga kata Ulul Albab ( ayat 9, 18 dan 21) yang membedakan dengan jelas perbedaan jalan hidup orang-orang yang beriman yang diridhai oleh Allah dan orang orang yang kafir yang dimurkai oleh Allah lalu ditutup dengan sangat indah bagaimana nasib masing masing ketika yang satu berbondong-bondong masuk kedalam sorga sedangkan yang lain digiring bersama-sama menuju naraka Jahannam (baca terjemahan Surat 39; Az- Zumar ayat 71-75) 
Surat Az-Zumar ini juga mengajak orang yang dosanya sudah bergelimang dan bertumpuk tumpuk agar cepat-cepat kembali ke jalan yang benar sebelum datangnya azab, sebelum akhirnya hanya mengemukakan penyesalan dengan mengungkapkan :”Alangkah besarnya penyesalanku atas kelalaianku dalam menunaikan kewajiban terhadap Allah. Dan rupanya aku termasuk orang-orang yang memperolok-olokkankan Agama Allah”(ayat 56) 
Atau Supaya nanti tidak hanya bisa mengatakan:”Sekiranya Allah memberikan petunjuk kepadaku tentulah aku termasuk orang-oarang yang bertaqwa” (ayat 57)
Atau supaya jangan ada yang berkata ketika melihat Azab:”Sekiranya aku dapat kesempan kembali ke dunia, tentu aku akanmenjadi orang yang baik baik” (ayat 58)
Yaa Allah Yaa Ghafuur (yang Maha Pengampun), Yaa Rahiim (yang Maha Penyayang), Yaa Tawwaab (yang maha Penerima tobat), Ya Haliim (yang Maha Penyantun) Yaa ‘Afuwwu (yang maha Pema’af) Yaa Rauuf (yang Maha Pelimpah kasih, Yaa Waduud (Yang maha Mencintai) Kami akui Sebagai makhluk yang amat lemah sungguh teramat dosa dan kesalahan yang telah kami lakukan. Kami sadari karena banyaknya godaan kami sering lalai dalam menunaikan kewajiban kami. Kami ingin melalui rahmat dan kasih sayang-Mu yang amat luas agar diredhai dan direstui untuk kembali mengemudi hati kami di jalan yang lurus. Walaupun begitu banyaknya dosa-dosa kami Kami percaya bahwa ampunan-Mu amat luas dan Engkau akan memasukkan kami kedalam ampunan-Mu itu. Terima Kasih Ya Allah Engkau telah menerima kami kembali untuk menebus dosa dan kesalahan kami.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar