Minggu, 30 April 2017

HATI MEREKA LEBIH JAHAT DARI UCAPANNYA

QS. 3 Ali Imraan ayat 118-120
Ucapan kebencian dan penistaan telah nyata keluar dari mulut mulut mereka, sedangkan apa yang tersembunyi di dalam hati mereka jauh lebih jahat.

Mereka tidak pernah berhenti mencari cara untuk mencelakakan kamu dan saking marahnya, di belakang kamu, sampai mereka menggigit jari jari mereka. 

Cuma kamu yang menyukai mereka, sedangkan mereka hanya pura pura menyukai kamu, kalau perlu dengan menyatakan beriman, supaya kamu terperdaya memberikan amanah kepada mereka.

Dan setelah mereka berhasil menguasai kamu, mereka akan menghancurkan kamu sehancur hancurnya. 
#waspadalah.

RAHASIA HATI. SUNGGUH AJAIB !!!

Sabtu, 29 April 2017

BERTAQWA ATAU DURHAKA?

QS. 7; al-A’raaf ayat 96-99
Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Assalaamu ‘alaikum Warahmatullaahi wabarakaatuh
Sungguh Allah maha mencipta, maha mengatur dan maha luas karunia-Nya
Tak pernah keliru, tak pernah aniaya, dan selalu menepati janji-janji-Nya.
Dia punya berjuta cara untuk mengantarkan rizki yang telah ditetapkan-Nya
Dia mendatangkan karunia dari arah manapun yang Ia suka dan dalam bentuk apapun yang dikehendaki-Nya.

“Wahai keturunan Adam”, Allah mengumumkan dalam hadis Qudsi,”Beribadahlah kepada-Ku sepenuhnya, niscaya akan kupenuhi hati kalian dengan kekayaan dan kupenuhi kedua tangan kalian dengan rezki. Wahai keturunan Adam, jangan menjauh dari-Ku, yang menyebabkan aku penuhi hati kalian dengan kefaqiran  dan Aku penuhi kedua tangan kalian dengan kesibukan’.

Hadis di atas membawa pesan bahwa orang yang beribadah kepada Allah akan dikayakan hatinya yang merasa cukup dan rela terhadap apa yang ada di dalam genggaman meskipun seadanya,  ia tidak akan disentuh oleh kemiskinan  dan tidak akan bangkrut selama-lamanya.
Sebaliknya orang yang menjauh dari Allah , tak ada sesuatupun yang bisa membuat dia merasa cukup karena terasa kurang dari yang diharapkan, dan akan selalu dipenuhi oleh kesibukan untuk memenuhi kebutuhan hawa nafsunya yang tidak pernah merasa puas.

Allah berfirman dalam surat 7; al-A’raaf ayat 96-99 yang artinya:” Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.
Maka apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di malam hari di waktu mereka sedang tidur?
 Atau apakah penduduk negeri-negeri itu merasa aman dari kedatangan siksaan Kami kepada mereka di waktu matahari sepenggalahan naik ketika mereka sedang bermain?
 Maka apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi”.


NIKMAT YANG MELALAIKAN

QS. 102; at-Takaatsur 

Anak Adam berkata, “Hartaku,! Hartaku!” Begitulah sabda nabi  dalam hadis Muslim, Ahmad dan Tirmidzi. “Padahal  sesungguhnya harta yang menjadi miliknya hanyalah apa yang dimakannya hingga habis, atau harta yang dipakainya hingga usang, atau harta yang disedekahkannya hingga menjadi miliknya untuk selama lamanya sampai hari akhirat. Adapun selain dari yang tiga itu akan lenyap meninggalkannya  atau dia tinggalkan untuk menjadi milik orang lain”.
Manusia hidup di dunia adalah ibarat adalah musafir yang mampir, tidak punya apa-apa dan tidak tinggal selamanya di dalamnya.  Namun  manusia selalu merasa memilikiny a yang membuat ia menjadi lalai dan lupa bashwa semua itu hanyalah sementara saja dan tidak pernah abadi.  Bahkan dunia itu telah membuat manusia panjang angan-angan yang menyebabkan ia melalaikan akhirat , dan memperturutkan hawa nafsunya yang menyebabkan dia berpaling dari kebenaran.

Cinta dunia, kenikmatan dan perhiasannya telah melalaikan manusia sehingga dia melupakan akhirat. Kematian pun datang menyebakan putusnya semua khayal dan angan angan, pupus segala mimpi dan cita citahalang semua kelezatan dan terpisahnya orang yang saling mencintai. Begitu kita mati kita akan kita akan ditanam di dalam kubur, sambil menunggu hari kebangkitan yang akan memperhitungkan segala amal perbuatan kita.

Kelak orang orang kafir yang menumpuk,  dunia menghitung hitungnya dan mengira bahwa kekayaan itu akan mengekalkannya akan mengetahui . orang orang beriman yang lalai, terpesona pada kekayaan, tertegun pada kemewahan dan tertunduk dihadapan kemewahan akan mengetahui dan akan melihat neraka jahim menggelegak dihadapan pandangan mereka dengan nyata, telah tersedia dan akan dimasuki oleh orang yang tergoda oleh goda dunia ., terperdaya oleh kilauan harta dan gemerlap kekayaan.

Di akhirat nanti kita benar benar kan ditanya tentang semua nikmat yang pernah kita peroleh . seberapa rasa syukur kita terhadap nikmat itu, apakah kita berhasil  menggunakannya untuk ketaatan,. Apakah segala umber nikmat iru halal dan baik, dan seberapa besar kemampuan kita mendistribusikan nikmat itu untuk berbagi dengan sesama.

Allah berfirman dalam surat 102; at-Takaatsur  yang Artinya:”
001. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,
002. sampai kamu masuk ke dalam kubur.
003. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),
004. dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.
005. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,
006. niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,
007. dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan `ainul yaqin,

008. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)”.

MINTA DAN RAIHLAH KEINGINANMU

QS. 14; Ibrahiim ayat 34
Setiap mimpi dan keinginan akan tercapai apabila kita meyakini bahwa Allah sanggup memberikan apa yang kita minta, asal saja kita sabar menunggu dan tetap berusaha sekuat tenaga kita dan jangan sekali-kali mengatakan “Aku sudah sering berdo’a tapi belum juga dikabulkan “.

“Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)”. (QS. 14; Ibrahiim ayat 34)

Betapa banyak sudah keinginan kita yang sudah tercapai sampai hari ini. Apakah itu makanan yang kita makan, pakaian yang kita kenakan, rumah yang kita tempati., pekerjaan yang kita tekuni, kenderaan yang kita tunggangi, Harta benda, sawah ladang serta anak isteri dan sanak saudara. Semua itu adalah anugerah dari Allah yang maha mengatur lagi maha bijaksana yang dilimpahkannya kepada kita, baik sebelum kita minta ataupun sesudah kita minta.

Kelengkapan tubuh yang dianugerahkan kepada kitas sejak kita lahir tanpa harus kita minta lebih dahulu, seperti tangan, kaki, mata, telinga, mulut, hidung, otak hati dan sebagainya adalah nikmat Allah yang tidak terbantahkan dan tidak mungkin untuk tergantikan, tetapi kenapa manusia itu banyak yang menzalimi diri dan mengingkari kekuasaan Allah. Na’uudzubillaahi min dzaalik. 

KARUNIA KELEBIHAN ADALAH UJIAN

QS. QS. 6; al-An’am ayat 165

Cinta dan kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya begitu dahsyat,terus menerus tanpa henti,  tak pernah hilang  dan tak pernah melemah intensitasnya. Dia  yang maha rahmaan  dengan cinta dan kasihnya yang begitu dalam dan tiada terbatas, yang  maha rahiim  dengan cinta dan kasih-Nya yang tak pernah berakhir dan tiada berubah.

Allah menghendaki agar orang-yang telah dilebihkan-Nya dengan harta, kedudukan, kekuatan dan ilmu pengetahuan agar mau berbagi bukan malah menjadi orang yang kikir dan menyusahkan orang yang membutuhkan apa yang dia punya bahkan meminta imbalan yang besar kepada orang yang butuh kepada dirinya dengan kelebihannya itu.

Seorang yang kaya seharusnya meringankan beban orang yang miskin, bukan malah mempermainkan mereka bahkan dengan harta itu dia merasa berhak memperbudak orang lain yang miskin.
Seorang yang berilmu seharusnya berbagi ilmu dengan orang lain, bukan malah membodohi orang yang bodoh dan membuat syarat-syarat yang berat kepada orang-orang yang membutuhkan ilmunya itu.

Seorang yang berkuasa harus memperlancar dan mempermudah urusan orang banyak, bukan malah menjadikan orang banyak menjadi sasaran empuk dari kekuasaannya, sehigga kekuasaannya itu bergelimang dengan kezaliman,  kecurangan  dan kesewenang-wenangan.

Allah memerintahkan kepada orang-orang yang mempunyai kelebihan atas orang lain agar menganggapnya sebagai karunia dan menggunakannya untuk berbagi dengan orang lain yang membutuhkan :” 071. Dan Allah melebihkan sebahagian kamu dari sebahagian yang lain dalam hal rezki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rezkinya itu) tidak mau memberikan rezki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki, agar mereka sama (merasakan) rezki itu. Maka mengapa mereka mengingkari ni`mat Allah?” (QS. 16; an-Nahl ayat 71).

Allah menciptakan manusia dengan karakter dan kelebihan yang berbeda-bada;
Ada yang ketika lahir sudah langsung berada dalam asuhan orang tua yang kaya raya, dan ada yang menjadi kaya karena dimudahkan oleh Allah dengan usahanya menjadi orang kaya.
Ada yang dilebihkan dengan kecerdasan otak dan dipertemukan dengan orang-orang yang berilmu yang akhirnya mengantarkannya menjadi ahli ilmu pengetahuan.
Ada yang dianugerahkan oleh Allah tenaga yang kuat, dan ada pula yang mempunyai daya tahan untuk menghadapi hal-hal yang sulit dan berat.

Apapun yang ditetapkan oleh Allah kepada kita baik itu dalam bentuk kelebihan atau kekurangan, semuanya adalah ujian dari Allah untuk melihat  kejujuran hati kita sebagai hamba yang mengakui bahwa segala sesuatu itu adalah ketetapan, apakah kita termasuk orang yang bersyukur dengan kelebihan yang kita peroleh dan bersabah dalam menghadapi kekurangan yang kita alami. 


Karena itu Allah berfirman yang artinya”“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. 6; al-An’am ayat 165).

PELUANG DI DALAM TANTANGAN

QS. 94; al-Insyirah.
Rintangan yang kita hadapi ibarat pintu yang terlihat tertutup, tetapi pintu itu sebenarnya dapat dibuka dan akan mengantarkan kita kepada sesuatu yang kita inginkan.

Kesulitan, masalah dan hambatan akan selalu mewarnai kehidupan kita,  namun melalui masalah dan kesulitan itu kita akan diangkat ke posisi yang lebih tinggi sehingga kita makin berkembang dan kekuatan kitapun bertambah.

Orang-orang yang telah berjasa kepada dunia senantiasa berpandangan bahwa masalah yang mereka hadapi merupakan peluang, maka karena itu mereka mengejar peluang tersebut, sebaliknya orang-orang yang gagal dalam hidup menganggap masalah yang mereka hadapi  sebagai hukuman maka karena itu mereka menghindar dari masalah tersebut.

Pengalaman mengajarkan kepada kita bahwa solusi dari masalah yang kita hadapi itu tidak datang dengan tiba-tiba,  tetapi jika kita bekerja keras menemukannya  dengan penuh optimis maka jawaban-jawaban itu akan tampak  di depan mata kita.

Bila kita melihat kembali perjalanan hidup kita, maka kita akan menemukan bahwa setiap kemajuan yang kita peroleh selalu kita dapatkan dengan cara mengatasi sebuah masalah atau menaklukkan kesulitan.  Dan bahwa rintangan-rintangan yang kita hadapi bagaikan undangan yang mengajak kita menuju perbaikan dan perkembangan.
Maka alangkah indahnya pesan-pesan Allah yang mengajari kita untuk mengambil peluang di dalam tantangan yang kita hadapi sebagai mana tertera dalam  Al-Qur’an surat 94; al-Insyirah yang artinya:”

001. Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?,
002. Dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu,
003. yang memberatkan punggungmu?
004. Dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu.
005. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan,
006. sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.
007. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,
008. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.


Rangkaian ayat  di atas menegaskan bahwa sebagai manusia kita adalah makhluk yang tercipta dengan aturan dan bimbingan  serta petunjuk dari Allah yang maha mengatur dan senantiasa melapangkan dada kita untuk dapat memecahkan masalah yang kita dapati untuk mengangkat nama baik kita, namun sunnatullah menetapkan bahwa kemudahan baru akan kita dapatkan sesudah berhasil menghadapi kesulitan. Kita dioperintahkan untuk tidak boleh berhenti bekerja dan menaklukkan kesulitan yang kita hadapi, dan harus menharapkan kepada Allah agar ia memberikan yang terbaik kepada kita karena Allah adalah sumbwer kekuatan yang paling dahsyat bagi orang-orang yang beriman.

SESUNGGUHNYA ALLAH TELAH MENGADAKAN KETENTUAN BAGI TIAP-TIAP SESUATU

QS. 67; ath-Thalaaq ayat 2 dan 3
“...Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu”. (QS. 67; ath-Thalaaq ayat 2 dan 3).

Taqwa dan tawakkal memiliki sebuah rahasia yang unik dan indah serta tujuan yang mulia.  Apa bila seorang telah bertaqwa kepada Allah , maka ia tidak akan pernah menganggap pertolongan Allah lambat dan tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah serta akan selalu merasa tidak pernah terjauh dari kurnia Allah. Dia juga akan merasa yakin bahwa Allah pasti memberi jalan keluar dari seriap kesulitan yang dihadapinya. Dengan jiwa tawakkal seorang meyakini bahwa Allah menjadi jaminan bahwa semua urusannya akan disampaikan oleh Allah.

Namun semua ketentuan Allah itu tidak bisa dilepaskan dari waktu yang diinginkan oleh Allah. Karena segala sesuatu di sisi Allah ada ketentuan yang telah digariskan. Maka tidak ada kewajiban bagi seorang pekerja kecuali  terus bekerja hingga datang waktu menerima upah atau pahala.  Dan tidak ada kewajiban dari orang yang berdo’a kecuali terud berdo’a hingga ia mendapatkan apa yang diinginkannya, dan tidak boleh mengatakan  aku telah berdo’a dan berdo’a namun tidak pernah dikabulkan. Sebaliknya ia harus merasa tenteram bahwa dia telah berdo’a  dan bersabar menunggu sesuatu yang akan diberikan oleh Allah kepadanya,  dan merasa tenang dengan Kemuliaan, kepemurahan, keluasan rahmat dan kesempurnaan kekuasaan-Nya, dan tidak pernah mengingkari janji-janji-Nya.

Allah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu yang memiliki zamannya sendiri yang tidak akan mungkin dilanggar, jika datang waktu yang telah ditentukan bagi sesuatu maka dia akan berlaku dan tidak mungkin akan dimajukan atau dimundurkan. Ujian dan cobaan memiliki waktu yang tertentu  dan setelah itu ia akan berlalu. Penyakit hanya dalam hitungan hari  dan setelah itu ia akan tersingkap sebuh. Dan kesedihan itu ada saat-saatnya dan setelah itu akan muncul kebahagiaan yang menyusulnya.

Oleh karena itu jangan terburu-buru untuk mendapatkan yang diinginkan dan jangan tergesa-gesa menyingkirkan sesauatu yang tidak diinginkan, sebab keputusan tidak berada di tangan anda, melainkan berada di tangan yang telah mengadakan ketentuan bagi tiap=tiap sesuatu.

Keyakinan akan adanya ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu, akan benar-benar menjadi hiburan bagi orang-orang yang dilanda musibah atau bencana karena ia percaya akan adanya waktu berakhirnya ujian dan cobaan itu. Dan angan-angan untuk hilangnya musibah sebelumwaktunya adalah suatu tindakan yang mustahil yang hanya berdasarkan was-was semata. Cara terbaik yang harus dilakukan  untuk keluar dari musibah adalah dengan berdo’a dan berusaha dengan ikhlas, bersabar dan bertakwa, bertawakkal dan bertobat serta menyerahkan semua perkara kepada yang maha berkuasa untuk menentukan segala sesuatu.

Pohon-pohon tidak akan mendatangkan buah sebelum waktunya, matahari tidak akan terbit sebelum waktunya. Seorang bayi tidak akan lahir ke dunia sebelum waktunya.  Semuanya telah ditentukan oleh Allah  yang maha menentukan. Yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Naha suci Dia yang di tangan-Nya berada kekuasaan segala sesuatu dan kep-ada=Nyalah segala sesuatu akan dikembalikan.


Jumat, 28 April 2017

FOKUS PERHATIAN PADA DUNIA ATAU AKHIRAT?

QS. 28; al-Qashash ayat 77
Barang siapa yang memasuki pagi dan menjadikan dunia sebagai fokus perhatiannya, maka Allah akan memecah kumpulannya, dan Dia akan menjadikan kefakiran di depan matanya, dan dunia tidak akan didapatkannya kecuali sebanyak apa yang telah ditetapkan untuknya. Dan barang siapa yang memasuki waktu pagi dan menjadikan akhirat sebagai fokus perhatiannya, maka Allah akan menghimpun kumpulannya, akan akan menjadikan kekayaan di dalam hatinya, dan dunia ini akan datang kepadanya dengan tunduk dan patuh mendatanginya (HR. At-Tirmidzi).

Fokus perhatian adalah memusatkan perhatian, menyibukkan diri dengannya, senantiasa mengharapkannya sebagai sesuatu target yang diinginkan, dalam mencapainya dilakukan dengan sepenuh hati, seolah olah kita tersihir dengannya dan merasa asyik ketika bersamanya. 

Dalam kenyataan hidup kita menyaksikan banyak orang yang hanya memfokuskan kehidupannya hanya kepada kebahagiaan dunia semata tanpa mau perduli dengan kehidupan akhirat, sehingga ia dengan mudah memperjual belikan kehidupan akhirat demi kepentingan dunia. Yang penting baginya mendapatkan harta dan menguasai pangkat dan jabatan tanpa memperdulikan apakah dia telah mengabaikan ketentuan agama, dan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.

Dalam lintasan sejarah dan peradaban Islam kita menemukan banyak sekali tokoh yang mengangkat harkat dan martabat ummat manusia dengan memfokuskan perhatiannya untuk kepentingan akhirat tapi berdampak besar untuk kemajuan ummat, bangsa, dan agama, dan namanya dikenang sepanjang sejarah, seperti para ahli hadis dan ahli fiqih yang mencurahkan perhatian yang sangat besar seumur hidupnya untuk mendalami dan mengajarkan ilmu, umur dan hartanya habis untuk kepentingan ilmu dan agamanya, bahkan tidak jarang mereka mendapat cobaan dan ujian, mereka mengembara keberbagai negeri, melintasi gunung dan lembah, terkadang dengan perut lapar dan kaki telanjang. Tetapi ilmu yang mereka dapatkan benar-benar bermanfaat untuk dirinya dan berguna bagi siapa saja. Dan yang terpenting adalah walaupun mereka seperti kehilangan dunianya, tetapi dapat dipastikan bahwa mereka mendapat tempat yang pasti untuk berbahagia di akhirat kelak. 

Fokus perhatian mereka kepada akhirat membuat mereka merasakan nikmatnya keyakinan, dan mencium wanginya ilmu pengetahuan, serta mampu melihat panji-panji hakekat. Mereka merasakan manisnya ilmu karena mereka mencintainya sampai meresap ke tulang sumsumnya, dan karena itulah mereka menghasilkan karya besar yang penuh berkah yang kita nikmati saat ini.

Sebagai perbandingan kita bandingkan dua orang yang super kaya dalam lintasan sejarah, yaitu antara Qarun dan Nabi Sulaiman AS. Kedua-duanya sama sama menguasai harta yang luar biasa banyaknya. Tetapi Qarun yang hanya fokus perhatiannya kepada dunia saja, tak mau kenal dengan Allah dan tidak perduli dengan hari akhirat, hartanya tidak bisa menolongnya, bahkan menjadi sebab turunnya azab Allah kepada dirinya; Sedangkan Nabi Sulaiman AS, begitu yakin bahwa semua itu adalah karunia dari Allah sebagai ujian bagi dirinya, dan dia selalu mensyukurinya, dan siap mempertanggung-jawabkannya di akhirat. Maka Allah meredhai kehidupannya, dan akan melengkapi kebahagiaan yang telah diraihnya itu dengan jaminan kebahagiaan yang jauh lebih berharga di akhirat nantinya. 

Oleh sebab itu Allah membimbing kita di dalam surat 28; al-Qashash ayat 77 yang artinya:”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (keni`matan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Kamis, 27 April 2017

PEMBATAL-PEMBATAL KEISLAMAN

Setiap Muslim harus mengetahui bahwa membicarakan pembatal-pembatal keislaman dan hal-hal yang menyebabkan kufur dan kesesatan termasuk dari perkara-perkara yang besar dan penting yang harus dijalani sesuai dengan Al-Qur-an dan As-Sunnah. Tidak boleh berbicara tentang takfir dengan mengikuti hawa nafsu dan syahwat, melainkan dengan bukti dan keterangan yang sangat jelas, karena bahayanya yang sangat besar.

Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas menjelaskan bahwa Ahlus Sunnah wal Jama’ah meyakini adanya 10 perkara yang dapat membatalkan keislaman seseorang Yaitu:

1. Menyekutukan Allah (syirik). Yaitu menjadikan sekutu atau menjadikannya sebagai perantara antara dirinya dengan Allah. Misalnya berdo’a, memohon syafa’at, bertawakkal, beristighatsah, bernadzar, menyembelih yang ditujukan kepada selain Allah, seperti menyembelih untuk jin atau untuk penghuni kubur, dengan keyakinan bahwa para sesembahan selain Allah itu dapat menolak bahaya atau dapat mendatangkan manfaat.

2. Orang yang membuat perantara antara dirinya dengan Allah, yaitu dengan berdo’a, memohon syafa’at, serta bertawakkal kepada mereka. Perbuatan-perbuatan tersebut termasuk amalan kekufuran menurut ijma’ (kesepakatan para ulama).
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat 17 al-Israa’ ayat 56-57 yang artinya:“Katakanlah: ‘Panggillah mereka yang kamu anggap (sekutu) selain Allah, maka tidaklah mereka memiliki kekuasaan untuk menghilangkan bahaya darimu dan tidak pula dapat memindahkannya.’ Yang mereka seru itu mencari sendiri jalan yang lebih dekat menuju Rabb-nya, dan mereka mengharapkan rahmat serta takut akan adzab-Nya. Sesungguhnya adzab Rabb-mu adalah sesuatu yang (harus) ditakuti.”

3. Tidak mengkafirkan orang-orang musyrik, atau meragukan kekafiran mereka, atau membenarkan pendapat me-reka. Yaitu orang yang tidak mengkafirkan orang-orang kafir -baik dari Yahudi, Nasrani maupun Majusi-, orang-orang musyrik, atau orang-orang mulhid (Atheis), atau selain itu dari berbagai macam kekufuran, atau ia meragukan kekufuran mereka, atau ia membenarkan pendapat mereka, maka ia telah kafir.

4. Meyakini adanya petunjuk yang lebih sempurna dari Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Orang yang meyakini bahwa ada petunjuk lain yang lebih sempurna dari petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau orang meyakini bahwa ada hukum lain yang lebih baik daripada hukum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seperti orang-orang yang lebih memilih hukum-hukum Thaghut daripada hukum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia telah kafir.

5. Tidak senang dan membenci hal-hal yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, meskipun ia melaksanakannya, maka ia telah kafir. Yaitu orang yang marah, murka, atau benci terhadap apa-apa yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, walaupun ia melakukannya, maka ia telah kafir.

6. Menghina Islam
Yaitu orang yang mengolok-olok (menghina) Allah dan Rasul-Nya, Al-Qur-an, agama Islam, Malaikat atau para ulama karena ilmu yang mereka miliki. Atau menghina salah satu syi’ar dari syi’ar-syi’ar Islam, seperti shalat, zakat, puasa, haji, thawaf di Ka’bah, wukuf di ‘Arafah atau menghina masjid, adzan, memelihara jenggot atau Sunnah-Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lainnya, dan syi’ar-syi’ar agama Allah pada tempat-tempat yang disucikan dalam keyakinan Islam serta terdapat keberkahan padanya, maka dia telah kafir.


7. Melakukan Sihir
Yaitu melakukan praktek-praktek sihir, termasuk di dalamnya ash-sharfu dan al-‘athfu.
Ash-sharfu adalah perbuatan sihir yang dimaksudkan dengannya untuk merubah keadaan seseorang dari apa yang dicintainya, seperti memalingkan kecintaan seorang suami terhadap isterinya menjadi kebencian terhadapnya. Adapun al-‘athfu adalah amalan sihir yang dimaksudkan untuk memacu dan mendorong seseorang dari apa yang tidak dicintainya sehingga ia mencintainya dengan cara-cara syaithan.


8. Memberikan pertolongan kepada orang kafir dan membantu mereka dalam rangka memerangi kaum Muslimin

9. Meyakini bahwa manusia bebas keluar dari syari’at Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Yaitu orang yang mempunyai keyakinan bahwa sebagian manusia diberikan keleluasaan untuk keluar dari sya’riat (ajaran) Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka ia telah kafir. Karena seorang Nabi diutus secara khusus kepada kaumnya, maka tidak wajib bagi seluruh menusia untuk mengikutinya. Adapun Nabi kita, Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam diutus kepada seluruh manusia secara kaffah (menyeluruh), maka tidak halal bagi manusia untuk menyelisihi dan keluar dari syari’at beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam.


10. Berpaling dari agama Allah Ta’ala, ia tidak mempelajarinya dan tidak beramal dengannya. Yang dimaksud dari berpaling yang termasuk pembatal dari pembatal-pembatal keislaman adalah berpaling dari mempelajari pokok agama yang seseorang dapat dikatakan Muslim dengannya, meskipun ia jahil (bodoh) terhadap perkara-perkara agama yang sifatnya terperinci. Karena ilmu terhadap agama secara terperinci terkadang tidak ada yang sanggup melaksanakannya kecuali para ulama dan para penuntut ilmu.

Rabu, 26 April 2017

BERBANTAHAN DI HADAPAN ALLAH

Q.S. 39; Az-Zumar :30-31
Manusia hidup antara dua pilihan, jika tidak berhimpun dalam kebenaran maka mereka akan dicerai beraikan oleh kebatilan. Jika mereka tidak disatukan oleh ibadah kepada Allah, tentu mereka akan tercabik-cabik dalam menyembah setan dalam beragam kesesatan. Jika mereka tidak merasa tertarik kepada kenikmatan akhirat, tentu mereka bertikai memperebutkan barang-barang dunia yang semu. Dalam hal ini mereka terbagi dalam orang yang berlaku baik kepada dirinya dan golongan orang yang secara sadar menzalimi dirinya. Kedua golongan yang perbedaannya bagaikan terang dan gelap ini akan selalu bergumul dan saling tarik menarik kepentingan, antara mengentalkan keimanan dan meluaskan kekafiran, antara menegakkan kebenaran dan melindungi kebatilan dan antara menjalankan sunnah dan mempertahankan bidh’ah.
Bila keadilan tidak berhasil dijalankan maka yang muncul adalah berbagai tindak kezaliman. Dan cukuplah untuk menolak kezaliman dan para penzalim itu, dan sebagai penghibur orang yang dizalimi, bahwa esok hari semua bentuk perseteruan akan dihimpun di sisi Allah, kelak setelah kedua pihak tidak bisa menolak kesudahan hidup yang berakhir dengan kematian, dan tidak bisa menolak untuk diadili dengan seadil-adilnya dan harus membayar mahal setiap kezaliman untuk menjadi modal yang sangat berharga bagi setiap orang yang pernah dicurangi,dikhianati dan dirugikannya.

Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula). Kemudian sesungguhnya kamu pada hari kiamat akan berbantah-bantah dihadapan Tuhanmu. (Q.S. 39; Az-Zumar :30-31).

Perbantahan yang terjadi dihadapan Tuhan maksudnya adalah berperkaranya mereka dihadapan Allah, maka Allah akan mengambil berbagai kebaikan orang yang zalim (itupun kalau ada), sesuai dengan tindak kezalimannya dan memindahkannya kepada kumpulan kebaikan orang yang pernah dizaliminya. Kalau kebaikan sizalim tadi tidak cukup untuk menebus kesalahannya maka dosa dari orang yang dicuranginya itu yang akan dipikulkan kepadanya yang akan memperburuk kondisinya yang bagaikan orang yang jatuh ditimpa tangga pula.

Nabi Muhammad SAW, dalam hadis Bukhary yang diriwayatkan dari Abi Hurairah bersabda :”Barang siapa yang melakukan kezaliman kepada orang lain baik harta benda atau sesuatu yang lain, hendaklah ia meminta kehalalannya pada hari ini, sebelum datang saat dimana tidak ada lagi dinar maupun dirham atau rupiah dan dollar. Kalau ia memiliki amal saleh maka amalannya itu akan diambil sesuai dengan kadar kezalimannya, tetapi kalau dia ridak memiliki berbagai kebaikan, maka akan diambil dosa dari orang yang dizaliminya lalu dibebankan kepadanya”. Na’uzubillah.

Allah hanya butuh satu teriakan saja untuk dengan sekonyong konyong membinasakan seluruh manusia, saat mereka sedang saling bertengkar dan berbantah-bantahan, tanpa disadari kedatangannya oleh siapapun bahkan juru ramal sekalipun. Tiba-tiba saja semuanya berakhir, dan semuanya binasa tanpa sempat memberikan wasiat kepada seorangpun, dan tidak pula sempat untuk kembali kepada keluarga atau pulang kerumah. Seorang yang sedang memegang kainpun tidak sempat untuk melipat kainnya. Seorang yang telah menyuap nasi tidak sempat lagi mengunyah nasi yang telah disuapnya itu ataupun menelannya. Alangkah dahsyatnya dan itu pasti akan terjadi.

Kemudian hanya dengan satu teriakan pula manusia akan bangkit dari kuburnya masing-masing, dan sudah berada di hadapan Tuhannya untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatannya.

SENGSARA KARENA NIKMAT

kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) al-ba’saa’ (kesengsaraan) dan adh-dharraa’ (kemelaratan), supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.(Q.S. 6; al-An’aam ayat 42)

Menurut ahli tafsir bahwa al-ba’saa’ berarti kesengsaraan  dalam bentuk bumi tidak lagi memberikan hasil yang dapat mencukupkan makanan, musim kemarau berkepanjangan, dan bila hujan menyebabkan banjir yang merusak tanaman. Harga kebutuhan melambung tinggi sehingga tidak terjangkau oleh daya beli. sedangkan harga hasil pertanian  turun sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan. Manusia hidup di bawah kekuasan pemimpin yang tidak amanah.

Sedangkan adh-dharra’ berarti kemelaratan dalam bentuk  penyakit yang menimpa diri yang menguras kekayaan untuk biaya pengobatan atau dalam bentuk timbulnya kemiskinan dan kekurangan sandang pangan, hidup dari hari kehari semakin susah sehingga ada yang mati kelaparan.

Dalam keadaan yang demikian itu Allah menghendaki agar manusia yang hidup di bumi merendahkan diri sehingga Allah melepaskan dari bencana yang menimpa karena tidak ada yang mampu menjauhkan manusia dari kesengsaraan dan kemelaratan selain Allah yang maha menentukan dan maha bewrkuasa atas segala sesuatu.

Namun apa yang terjadi! Manusia itu bukannya tunduk dan inshaf, serta melakukan koreksi diri, melainkan bertambah durhaka, mendustakan kebenaran, membelakangi Allah dan bertambah keras kepala. Mereka menyatakan bahwa hidup sengsara dan melarat bukanlah karena ketentuan Allah. Lalu syetan datang memperdaya, baik itu syetan halus atau syetan kasar yang terdiri dari manusia, membisikkan dan menyanjung bahwa langkah yang ditempuh tidaklah salah, maju terus pantang mundur!  tak perlu merendahkan diri kepada Allah, nanti kamu kehilangan wibawa dan orang tidak akan segan lagi kepada kita.

Mereka juga menyatakan bahwa yang akan sengsara itu hanya orang orang desa, bahwa yang melarat itu hanya rakyat kecil, sedangkan orang orang yang kaya dan berkuasa tidak akan pernah merasakan kesengsaraan dan kemelaratan. Dan akhirnya mereka lupa diri dan lupa kepada yang maha berkuasa, yang melimpahkan rezki itu kepada mereka dan Diapun pasti sanggup untuk mengambilnya kembali.

Disaat mereka lupa kepada apa yang diperingatkan kepada mereka, lalu Allah membukakan kepada mereka pintu-pintu dari segala sesuatu. Allah buka kesempatan Rezeki datang laksana tercurahnya air hujan, tak ada yang bisa menghalangi, walaupun cara mendapatkan rezkinya tidak halal, apakah dengan cara menipu atau menganiaya, atau dengan korupsi dan manipulasi,sehingga yang kaya makin kaya, yang miskin tambah miskin. Manusia bergelimang dengan dosa dan maksiat. Yang kaya menyikut dan menyikat, yang miskin tersudut dan tersekat. Yang mulia dan pintar berkhianat, yang hina dan bodoh jadi penjahat, orang hebat main sapu jagat, orang kecil jadi penjilat, sikuat bebas membabat, maka silemahpun sakarat lalu wafat.
penjahat semakin ganas, persaingan hidup semakin keras, orangpun tak segan saling peras, para penjarah tak pernah puas, para penjambret semakin buas, bencana alam semakin meluas, beberapa daerah diguyur hujan deras, membuat sulit mendapat beras, inilah krisis tanpa batas yang tak pernah tuntas.

Disaat manusia sudah lupa daratan, ketika mereka bergembira dan berpesta ria dengan berbagai kenikmatan, datanglah siksaan Allah dengan sekonyong-konyong, dengan tiba-tiba, tidak tahu dari mana akan datangnya, tidak bisa dielakkan dan dihindarkan, semakin dielakkan semakin mencekam. Sehingga putus asalah mereka dari mendapatkan pertolongan. Para pembesar itupun musnah bersama konco-konconya ditumpas oleh Allah sampai keakar akarnya.


KEYAKINAN DAN PENDIRIAN YANG TEGUH



Q.S. 41; Fushshilat ayat 30-32
Subhanallah! Alangkah indahnya kehidupan yang dijanjikan oleh Allah kepada orang orang yang beriman dan tetap berpendirian dalam imannya. Yang tidak mudah terombang ambing oleh gelombang kehidupan, tidak terlena oleh kehidupan dunia, tidak terpengaruh oleh bujukan hawa nafsu, tidak mau menyimpang karena mengejar harta, tidak terperdaya karena berpangkat, tidak menyerah karena kecantikan wanita dan tidak tertipu oleh jebakan jebakan yang dibuat oleh syetan yang terkutuk.

Orang orang yang beriman dan menegang teguh keimanannya akan merasakan keberadaan Allah sebagai pelindung, penolong dan penyelamatnya dalam menyelesaikan problem problem hidup yang dihadapi, sehingga yang sulit menjadi mudah, yang berat menjadi ringan, yang jauh menjadi dekat, bahkan ia akan merasakan betapa banyaknya hal-hal luar biasa yang dialaminya sebagai bukti dan tanda kasih sayang Allah kepadanya.

Hal yang demikian bisa terjadi karena Allah memerintahkan kepada para malaikatnya agar ikut ambil bagian untuk membantu penyelesaian dari setiap urusan mereka, bahkan segala isi alam yang ada di langit dan bumi baik di darat dan dilaut siap berkhidmat, menyiapkan diri dalam bentuk apa saja agar apa yang mereka inginkan segera terlaksana.

Dalam keadaan yang demikian para malaikat selalu berbisik ketelinga mereka tak usah takut tak usah cemas. Allah telah meredhai jalan hidupmu, kami diperintahkan untuk menolongmu, untuk membela dan melindungimu, untuk menjagamu dari bencana dan penderitaan, selama kamu hidup di dunia ini, sampai akhir hayatmu, bahkan di dalam kubur hingga hari berbangkit, dan kami akan mengawal kamu sampai kamu memasuki sorga yang telah dijanjikan oleh Allah yang maha pemurah itu kepadamu.

Suasana yang amat menggembirakan ini dijanjikan oleh Allah melalui firman-Nya dalam Q.S. 41; Fushshilat ayat 30-32  إِنَّ ٱلَّذِینَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسۡتَقَـٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَیۡهِمُ ٱلۡمَلَـٰۤىِٕكَةُ أَلّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحۡزَنُوا۟ وَأَبۡشِرُوا۟ بِٱلۡجَنَّةِ ٱلَّتِی كُنتُمۡ تُوعَدُو
نَحۡنُ أَوۡلِیَاۤؤُكُمۡ فِی ٱلۡحَیَوٰةِ ٱلدُّنۡیَا وَفِی ٱلۡـَٔاخِرَةِۖ وَلَكُمۡ فِیهَا مَا تَشۡتَهِیۤ أَنفُسُكُمۡ وَلَكُمۡ فِیهَا مَا تَدَّعُونَ
نُزُلࣰا مِّنۡ غَفُورࣲ رَّحِیمࣲ
Artinya:” Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): "Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu". Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan di akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Semoga kita mampu menjadi orang yang istiqamah ditengah derasnya gelombang yang merusak keyakinan kita.