Sabtu, 29 April 2017

NIKMAT YANG MELALAIKAN

QS. 102; at-Takaatsur 

Anak Adam berkata, “Hartaku,! Hartaku!” Begitulah sabda nabi  dalam hadis Muslim, Ahmad dan Tirmidzi. “Padahal  sesungguhnya harta yang menjadi miliknya hanyalah apa yang dimakannya hingga habis, atau harta yang dipakainya hingga usang, atau harta yang disedekahkannya hingga menjadi miliknya untuk selama lamanya sampai hari akhirat. Adapun selain dari yang tiga itu akan lenyap meninggalkannya  atau dia tinggalkan untuk menjadi milik orang lain”.
Manusia hidup di dunia adalah ibarat adalah musafir yang mampir, tidak punya apa-apa dan tidak tinggal selamanya di dalamnya.  Namun  manusia selalu merasa memilikiny a yang membuat ia menjadi lalai dan lupa bashwa semua itu hanyalah sementara saja dan tidak pernah abadi.  Bahkan dunia itu telah membuat manusia panjang angan-angan yang menyebabkan ia melalaikan akhirat , dan memperturutkan hawa nafsunya yang menyebabkan dia berpaling dari kebenaran.

Cinta dunia, kenikmatan dan perhiasannya telah melalaikan manusia sehingga dia melupakan akhirat. Kematian pun datang menyebakan putusnya semua khayal dan angan angan, pupus segala mimpi dan cita citahalang semua kelezatan dan terpisahnya orang yang saling mencintai. Begitu kita mati kita akan kita akan ditanam di dalam kubur, sambil menunggu hari kebangkitan yang akan memperhitungkan segala amal perbuatan kita.

Kelak orang orang kafir yang menumpuk,  dunia menghitung hitungnya dan mengira bahwa kekayaan itu akan mengekalkannya akan mengetahui . orang orang beriman yang lalai, terpesona pada kekayaan, tertegun pada kemewahan dan tertunduk dihadapan kemewahan akan mengetahui dan akan melihat neraka jahim menggelegak dihadapan pandangan mereka dengan nyata, telah tersedia dan akan dimasuki oleh orang yang tergoda oleh goda dunia ., terperdaya oleh kilauan harta dan gemerlap kekayaan.

Di akhirat nanti kita benar benar kan ditanya tentang semua nikmat yang pernah kita peroleh . seberapa rasa syukur kita terhadap nikmat itu, apakah kita berhasil  menggunakannya untuk ketaatan,. Apakah segala umber nikmat iru halal dan baik, dan seberapa besar kemampuan kita mendistribusikan nikmat itu untuk berbagi dengan sesama.

Allah berfirman dalam surat 102; at-Takaatsur  yang Artinya:”
001. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,
002. sampai kamu masuk ke dalam kubur.
003. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),
004. dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.
005. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,
006. niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,
007. dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan `ainul yaqin,

008. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)”.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar