QS. 102; at-Takaatsur
Anak Adam
berkata, “Hartaku,! Hartaku!” Begitulah sabda nabi dalam hadis Muslim, Ahmad dan Tirmidzi.
“Padahal sesungguhnya harta yang menjadi
miliknya hanyalah apa yang dimakannya hingga habis, atau harta yang dipakainya
hingga usang, atau harta yang disedekahkannya hingga menjadi miliknya untuk
selama lamanya sampai hari akhirat. Adapun selain dari yang tiga itu akan
lenyap meninggalkannya atau dia tinggalkan
untuk menjadi milik orang lain”.
Manusia hidup
di dunia adalah ibarat adalah musafir yang mampir, tidak punya apa-apa dan
tidak tinggal selamanya di dalamnya.
Namun manusia selalu merasa
memilikiny a yang membuat ia menjadi lalai dan lupa bashwa semua itu hanyalah
sementara saja dan tidak pernah abadi.
Bahkan dunia itu telah membuat manusia panjang angan-angan yang
menyebabkan ia melalaikan akhirat , dan memperturutkan hawa nafsunya yang
menyebabkan dia berpaling dari kebenaran.
Cinta dunia,
kenikmatan dan perhiasannya telah melalaikan manusia sehingga dia melupakan
akhirat. Kematian pun datang menyebakan putusnya semua khayal dan angan angan,
pupus segala mimpi dan cita citahalang semua kelezatan dan terpisahnya orang
yang saling mencintai. Begitu kita mati kita akan kita akan ditanam di dalam
kubur, sambil menunggu hari kebangkitan yang akan memperhitungkan segala amal
perbuatan kita.
Kelak orang
orang kafir yang menumpuk, dunia
menghitung hitungnya dan mengira bahwa kekayaan itu akan mengekalkannya akan
mengetahui . orang orang beriman yang lalai, terpesona pada kekayaan, tertegun
pada kemewahan dan tertunduk dihadapan kemewahan akan mengetahui dan akan
melihat neraka jahim menggelegak dihadapan pandangan mereka dengan nyata, telah
tersedia dan akan dimasuki oleh orang yang tergoda oleh goda dunia .,
terperdaya oleh kilauan harta dan gemerlap kekayaan.
Di akhirat
nanti kita benar benar kan ditanya tentang semua nikmat yang pernah kita
peroleh . seberapa rasa syukur kita terhadap nikmat itu, apakah kita
berhasil menggunakannya untuk ketaatan,.
Apakah segala umber nikmat iru halal dan baik, dan seberapa besar kemampuan
kita mendistribusikan nikmat itu untuk berbagi dengan sesama.
Allah
berfirman dalam surat 102; at-Takaatsur
yang Artinya:”
001.
Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,
002. sampai
kamu masuk ke dalam kubur.
003. Janganlah
begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu),
004. dan
janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.
005. Janganlah
begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin,
006. niscaya
kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim,
007. dan
sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan `ainul yaqin,
008. kemudian
kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan
di dunia itu)”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar