Rabu, 26 April 2017

BERBANTAHAN DI HADAPAN ALLAH

Q.S. 39; Az-Zumar :30-31
Manusia hidup antara dua pilihan, jika tidak berhimpun dalam kebenaran maka mereka akan dicerai beraikan oleh kebatilan. Jika mereka tidak disatukan oleh ibadah kepada Allah, tentu mereka akan tercabik-cabik dalam menyembah setan dalam beragam kesesatan. Jika mereka tidak merasa tertarik kepada kenikmatan akhirat, tentu mereka bertikai memperebutkan barang-barang dunia yang semu. Dalam hal ini mereka terbagi dalam orang yang berlaku baik kepada dirinya dan golongan orang yang secara sadar menzalimi dirinya. Kedua golongan yang perbedaannya bagaikan terang dan gelap ini akan selalu bergumul dan saling tarik menarik kepentingan, antara mengentalkan keimanan dan meluaskan kekafiran, antara menegakkan kebenaran dan melindungi kebatilan dan antara menjalankan sunnah dan mempertahankan bidh’ah.
Bila keadilan tidak berhasil dijalankan maka yang muncul adalah berbagai tindak kezaliman. Dan cukuplah untuk menolak kezaliman dan para penzalim itu, dan sebagai penghibur orang yang dizalimi, bahwa esok hari semua bentuk perseteruan akan dihimpun di sisi Allah, kelak setelah kedua pihak tidak bisa menolak kesudahan hidup yang berakhir dengan kematian, dan tidak bisa menolak untuk diadili dengan seadil-adilnya dan harus membayar mahal setiap kezaliman untuk menjadi modal yang sangat berharga bagi setiap orang yang pernah dicurangi,dikhianati dan dirugikannya.

Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula). Kemudian sesungguhnya kamu pada hari kiamat akan berbantah-bantah dihadapan Tuhanmu. (Q.S. 39; Az-Zumar :30-31).

Perbantahan yang terjadi dihadapan Tuhan maksudnya adalah berperkaranya mereka dihadapan Allah, maka Allah akan mengambil berbagai kebaikan orang yang zalim (itupun kalau ada), sesuai dengan tindak kezalimannya dan memindahkannya kepada kumpulan kebaikan orang yang pernah dizaliminya. Kalau kebaikan sizalim tadi tidak cukup untuk menebus kesalahannya maka dosa dari orang yang dicuranginya itu yang akan dipikulkan kepadanya yang akan memperburuk kondisinya yang bagaikan orang yang jatuh ditimpa tangga pula.

Nabi Muhammad SAW, dalam hadis Bukhary yang diriwayatkan dari Abi Hurairah bersabda :”Barang siapa yang melakukan kezaliman kepada orang lain baik harta benda atau sesuatu yang lain, hendaklah ia meminta kehalalannya pada hari ini, sebelum datang saat dimana tidak ada lagi dinar maupun dirham atau rupiah dan dollar. Kalau ia memiliki amal saleh maka amalannya itu akan diambil sesuai dengan kadar kezalimannya, tetapi kalau dia ridak memiliki berbagai kebaikan, maka akan diambil dosa dari orang yang dizaliminya lalu dibebankan kepadanya”. Na’uzubillah.

Allah hanya butuh satu teriakan saja untuk dengan sekonyong konyong membinasakan seluruh manusia, saat mereka sedang saling bertengkar dan berbantah-bantahan, tanpa disadari kedatangannya oleh siapapun bahkan juru ramal sekalipun. Tiba-tiba saja semuanya berakhir, dan semuanya binasa tanpa sempat memberikan wasiat kepada seorangpun, dan tidak pula sempat untuk kembali kepada keluarga atau pulang kerumah. Seorang yang sedang memegang kainpun tidak sempat untuk melipat kainnya. Seorang yang telah menyuap nasi tidak sempat lagi mengunyah nasi yang telah disuapnya itu ataupun menelannya. Alangkah dahsyatnya dan itu pasti akan terjadi.

Kemudian hanya dengan satu teriakan pula manusia akan bangkit dari kuburnya masing-masing, dan sudah berada di hadapan Tuhannya untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar