Rabu, 26 April 2017

SENGSARA KARENA NIKMAT

kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) al-ba’saa’ (kesengsaraan) dan adh-dharraa’ (kemelaratan), supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri.(Q.S. 6; al-An’aam ayat 42)

Menurut ahli tafsir bahwa al-ba’saa’ berarti kesengsaraan  dalam bentuk bumi tidak lagi memberikan hasil yang dapat mencukupkan makanan, musim kemarau berkepanjangan, dan bila hujan menyebabkan banjir yang merusak tanaman. Harga kebutuhan melambung tinggi sehingga tidak terjangkau oleh daya beli. sedangkan harga hasil pertanian  turun sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan. Manusia hidup di bawah kekuasan pemimpin yang tidak amanah.

Sedangkan adh-dharra’ berarti kemelaratan dalam bentuk  penyakit yang menimpa diri yang menguras kekayaan untuk biaya pengobatan atau dalam bentuk timbulnya kemiskinan dan kekurangan sandang pangan, hidup dari hari kehari semakin susah sehingga ada yang mati kelaparan.

Dalam keadaan yang demikian itu Allah menghendaki agar manusia yang hidup di bumi merendahkan diri sehingga Allah melepaskan dari bencana yang menimpa karena tidak ada yang mampu menjauhkan manusia dari kesengsaraan dan kemelaratan selain Allah yang maha menentukan dan maha bewrkuasa atas segala sesuatu.

Namun apa yang terjadi! Manusia itu bukannya tunduk dan inshaf, serta melakukan koreksi diri, melainkan bertambah durhaka, mendustakan kebenaran, membelakangi Allah dan bertambah keras kepala. Mereka menyatakan bahwa hidup sengsara dan melarat bukanlah karena ketentuan Allah. Lalu syetan datang memperdaya, baik itu syetan halus atau syetan kasar yang terdiri dari manusia, membisikkan dan menyanjung bahwa langkah yang ditempuh tidaklah salah, maju terus pantang mundur!  tak perlu merendahkan diri kepada Allah, nanti kamu kehilangan wibawa dan orang tidak akan segan lagi kepada kita.

Mereka juga menyatakan bahwa yang akan sengsara itu hanya orang orang desa, bahwa yang melarat itu hanya rakyat kecil, sedangkan orang orang yang kaya dan berkuasa tidak akan pernah merasakan kesengsaraan dan kemelaratan. Dan akhirnya mereka lupa diri dan lupa kepada yang maha berkuasa, yang melimpahkan rezki itu kepada mereka dan Diapun pasti sanggup untuk mengambilnya kembali.

Disaat mereka lupa kepada apa yang diperingatkan kepada mereka, lalu Allah membukakan kepada mereka pintu-pintu dari segala sesuatu. Allah buka kesempatan Rezeki datang laksana tercurahnya air hujan, tak ada yang bisa menghalangi, walaupun cara mendapatkan rezkinya tidak halal, apakah dengan cara menipu atau menganiaya, atau dengan korupsi dan manipulasi,sehingga yang kaya makin kaya, yang miskin tambah miskin. Manusia bergelimang dengan dosa dan maksiat. Yang kaya menyikut dan menyikat, yang miskin tersudut dan tersekat. Yang mulia dan pintar berkhianat, yang hina dan bodoh jadi penjahat, orang hebat main sapu jagat, orang kecil jadi penjilat, sikuat bebas membabat, maka silemahpun sakarat lalu wafat.
penjahat semakin ganas, persaingan hidup semakin keras, orangpun tak segan saling peras, para penjarah tak pernah puas, para penjambret semakin buas, bencana alam semakin meluas, beberapa daerah diguyur hujan deras, membuat sulit mendapat beras, inilah krisis tanpa batas yang tak pernah tuntas.

Disaat manusia sudah lupa daratan, ketika mereka bergembira dan berpesta ria dengan berbagai kenikmatan, datanglah siksaan Allah dengan sekonyong-konyong, dengan tiba-tiba, tidak tahu dari mana akan datangnya, tidak bisa dielakkan dan dihindarkan, semakin dielakkan semakin mencekam. Sehingga putus asalah mereka dari mendapatkan pertolongan. Para pembesar itupun musnah bersama konco-konconya ditumpas oleh Allah sampai keakar akarnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar