kemudian Kami siksa mereka dengan (menimpakan) al-ba’saa’
(kesengsaraan) dan adh-dharraa’ (kemelaratan), supaya mereka bermohon (kepada Allah) dengan tunduk
merendahkan diri.(Q.S. 6; al-An’aam ayat 42)
Menurut ahli tafsir bahwa al-ba’saa’ berarti kesengsaraan dalam bentuk bumi
tidak lagi memberikan hasil yang dapat mencukupkan makanan, musim kemarau
berkepanjangan, dan bila hujan menyebabkan banjir yang merusak tanaman. Harga
kebutuhan melambung tinggi sehingga tidak terjangkau oleh daya beli. sedangkan
harga hasil pertanian turun sehingga tidak bisa memenuhi kebutuhan.
Manusia hidup di bawah kekuasan pemimpin yang tidak amanah.
Sedangkan adh-dharra’ berarti kemelaratan dalam bentuk penyakit yang
menimpa diri yang menguras kekayaan untuk biaya pengobatan atau dalam bentuk
timbulnya kemiskinan dan kekurangan sandang pangan, hidup dari hari kehari
semakin susah sehingga ada yang mati kelaparan.
Dalam keadaan yang demikian itu Allah menghendaki agar manusia yang hidup
di bumi merendahkan diri sehingga Allah melepaskan dari bencana yang menimpa
karena tidak ada yang mampu menjauhkan manusia dari kesengsaraan dan
kemelaratan selain Allah yang maha menentukan dan maha bewrkuasa atas segala
sesuatu.
Namun apa yang terjadi! Manusia itu bukannya tunduk dan inshaf, serta
melakukan koreksi diri, melainkan bertambah durhaka, mendustakan kebenaran,
membelakangi Allah dan bertambah keras kepala. Mereka
menyatakan bahwa hidup sengsara dan
melarat bukanlah karena ketentuan Allah. Lalu syetan datang memperdaya, baik itu syetan halus atau syetan kasar yang
terdiri dari manusia, membisikkan dan menyanjung bahwa langkah yang ditempuh
tidaklah salah, maju terus pantang mundur! tak perlu merendahkan diri
kepada Allah, nanti kamu kehilangan wibawa dan orang tidak akan segan lagi
kepada kita.
Mereka juga menyatakan bahwa yang akan sengsara itu hanya orang orang desa, bahwa
yang melarat itu hanya rakyat kecil, sedangkan orang orang yang kaya dan
berkuasa tidak akan pernah merasakan kesengsaraan dan kemelaratan. Dan akhirnya
mereka lupa diri dan lupa kepada yang maha berkuasa, yang melimpahkan rezki itu
kepada mereka dan Diapun pasti sanggup untuk mengambilnya kembali.
Disaat mereka lupa kepada apa yang diperingatkan kepada mereka, lalu Allah
membukakan kepada mereka pintu-pintu dari segala sesuatu. Allah buka kesempatan
Rezeki datang laksana tercurahnya air hujan, tak ada yang bisa menghalangi, walaupun cara mendapatkan
rezkinya tidak halal, apakah dengan cara menipu atau menganiaya, atau dengan korupsi dan manipulasi,sehingga yang kaya makin kaya, yang miskin tambah miskin. Manusia
bergelimang dengan dosa dan maksiat. Yang kaya menyikut dan menyikat, yang
miskin tersudut dan tersekat. Yang mulia dan pintar berkhianat, yang hina dan
bodoh jadi penjahat, orang hebat main sapu jagat, orang kecil jadi penjilat,
sikuat bebas membabat, maka silemahpun sakarat lalu wafat.
penjahat semakin ganas, persaingan hidup semakin keras, orangpun tak
segan saling peras, para penjarah tak pernah puas, para penjambret semakin
buas, bencana alam semakin meluas, beberapa daerah diguyur hujan deras, membuat
sulit mendapat beras, inilah krisis tanpa batas yang tak pernah tuntas.
Disaat manusia sudah lupa daratan, ketika mereka bergembira dan berpesta ria dengan
berbagai kenikmatan, datanglah siksaan Allah dengan sekonyong-konyong, dengan
tiba-tiba, tidak tahu dari mana akan datangnya, tidak bisa dielakkan dan
dihindarkan, semakin dielakkan semakin mencekam. Sehingga putus asalah mereka
dari mendapatkan pertolongan. Para pembesar itupun musnah bersama
konco-konconya ditumpas oleh Allah sampai keakar akarnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar