AIR MATA CINTA
Air mata bahagia akan mengalir ketika hati yang rindu hidayah menemukan kebenaran yang telah lama dicarinya dalam pengembaraan rohaninya. Air mata lega akan melimpah ketika orang yang sudah tersesat jauh akhirnya menemukan jalan keluar yang lurus dan lapang untuk kembali ketempat asalnya. Air mata haru akan tercurah ketika orang yang bergelimang dengan dosa dan kejahatan mendapat maaf dan menemukan jalan taubat yang diiringi dengan penyesalan dan keinginan untuk menebus kesalahannya. Air mata penyesalan akan tertumpah ketika seorang menyadari ketertipuannya oleh kehidupan dunia yang mempesona dan menyadari bahwa suatu saat ia pasti akan berhadapan dengan Penciptanya untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatannya.
Air mata cinta akan berlinang ketika seorang hamba menyadari betapa besar kasih dan sayang Allah kepadanya yang telah melimpahkan berbagai nikmat dan karunia setiap saat, yang tidak seorangpun dapat menghitungnya. Air mata tulus akan keluar ketika lubuk hati yang paling dalam yang tersentuh oleh ayat-ayat Al-Qur’an yang begitu menghanyutkan dan meluluhkan perasaan.
Menangis karena takut kepada Allah merupakan karakter hamba-hamba Allah yang bertaqwa dan orang-orang shaleh yang meneladani Nabi Muhammad SAW. Yang pernah mengajarkan bahwa ada dua mata yang tidak akan tersentuh oleh api neraka, yaitu mata yang menangis karena takut kepada Allah dan mata yang berjaga-jaga ketika berjihad di jalan Allah. Tidak ada yang lebih dicintai oleh Allahselain dua tetes benda cair yaitu tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah yang mengalir di jalan Allah. Salah satu dari tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari kiamat adalah seorang hamba yang mengingat Allah dalam kedunyian lalu tercurah melimpah air matanya. Maka beruntunglah orang-orang yang bisa menjaga lidahnya dan menangisi kesalahannya.
Allah memuji para nabi dan rasul-Nya dan orang-orang yang mendapat hidayah dari Allah yang menangis dan bersujud disebabkan mendengarkan ayat-ayat Allah yang dibacakan kepada mereka, seperti terdapat dalam firman-Nya dalam surat 29; Maryam ayat 58 yang artinya: “Mereka itu adalah orang-orang yang telah diberi ni`mat oleh Allah, yaitu para nabi dari keturunan Adam, dan dari orang-orang yang Kami angkat bersama Nuh, dan dari keturunan Ibrahim dan Israil, dan dari orang-orang yang telah Kami beri petunjuk dan telah Kami pilih. Apabila dibacakan ayat-ayat Allah Yang Maha Pemurah kepada mereka, maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis”.
Allah juga memuji Orang-orang berilmu sebelum Islam yang begitu terharu ketika mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka tersungkur sujud sambil menangis dan bertambah kekhusukan mereka. mereka ini diabadikan oleh Allah dalam firman-Nya pada surat 17; al Israa’ ayat 107-109 yang artinya: “Katakanlah: "Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah). Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur'an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud, dan mereka berkata: "Maha Suci Tuhan kami; sesungguhnya janji Tuhan kami pasti dipenuhi". Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu`.
Lalu Allah menceritakan betapa para ahli Kitab menangis dengan air mata berlinang ketika mereka menemukan kebenaran yang telah lama merka tunggu-tunggu itu akhirnya mereka temukan yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW. Hal ini diceritakan oleh Allah dalam surat 5; al-Maaidah ayat 83 yang artinya: “Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu melihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Al Qur'an) yang telah mereka ketahui (dari kitab-kitab mereka sendiri); seraya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi (atas kebenaran Al Qur'an dan kenabian Muhammad SAW)”.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas oleh Ibnu Abi Hatim, ketika Rasulullah SAW memrintahkan orang orang untuk berjihad bersamanya dalam perang Tabuk yang menempuh perjalanan jauh melalui panas terik matahari, datanglah segolongan sahabat dibawah pimpinan Abdullah bin Ma’qil al-Muzani dan berkata: ”Ya Rasulallah berilah kami tunggangan”. Rasulullah menjawab: ”tidak ada lagi tunggangan yang dapat membawa kalian”. Maka berlinanglah air mata mereka menyesali dirinya karena tidak punya bekal dan tunggangan untuk ikut berjihad. Mereka ini diabadikan oleh Allah dalam Al-Qur’an surat 9; At-Taubah: ayat 92 yang artinya: “Dan tiada (pula dosa) atas orang-orang yang apabila mereka datang kepadamu, supaya kamu memberi mereka kendaraan, lalu kamu berkata: "Aku tidak memperoleh kendaraan untuk membawamu", lalu mereka kembali, sedang mata mereka bercucuran air mata karena kesedihan, lantaran mereka tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan.
Abu Hurairah pernah membacakan sebuah hadis yang membuat para sahabat menangis, hadis tersebut artinya: ”Sesungguhnya orang yang pertama kali diadili pada hari kiamat adalah seorang yang mati Syahid. Ia dibawa ke hadapan Allah. Lalu disebutkan nikmat-nikmat Allah kepada dirinya iapun mengakuinya. Allah berfirman: ”Untuk apakah engkau gunakan nikmat tersebut?” Ia menjawab:”Aku berperang di jalan-Mu sehingga aku mati syahid”. Allah berfirman: ”Engkau dusta, sebenarnya engkau berperang supaya disebut pemberani. Begitulah kenyataannya”. Kemudian diperintahkan agar ia diseret dan dilemparkan ke dalam neraka. Kemudian seorang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya dan membaca Al-Qur’an. Ia dibawa ke hadapan Allah. Lalu disebutkan nikmat-nikmat Allah kepada dirinya iapun mengakuinya. Allah berfirman:”Untuk apakah engkau gunakan nikmat tersebut?” Ia menjawab:”Aku mempelajari ilmu dan mengajarkannya dan membaca Al-Qur’an karena-Mu semata”. Allah berfirman: ”Engkau dusta, sebenarnya engkau mempelajari Ilmu dan mengajarkannya supaya engkau disebut alim. Engkau membaca Al-Qur’an supaya disebut Qari. Begitulah kenyataannya”. Kemudian diperintahkan agar ia diseret dan dilemparkan ke dalam neraka. Kemudian seorang yang Allah beri kelapangan harta. Ia dibawa kehadapan Allah. Lalu disebutkan nikmat-nikmat Allah kepada dirinya iapun mengakuinya. Allah berfirman: ”Untuk apakah engkau gunakan nikmat tersebut?” Ia menjawab: ”Tidak satupun perkara yang Engkau anjurkan untuk berinfak di dalamnya melainkan aku infakkan hartaku karena-Mu semata”. Allah berfirman: ”Engkau dusta, sebenarnya engkau berinfak supaya disebut dermawan. Begitulah kenyataannya”. Kemudian diperintahkan agar ia diseret dan dilemparkan ke dalam neraka.
Salah seorang sahabat yang mendengar hadis ini adalah Mu’awiyah, ia langsung menangis hingga ia jatuh pingsan. Setelah sadar ia berkata: ”Benarlah Allah dan Rasul-Nya. Lalu ia membaca firman Allah dalam surat11; Huud ayat 15-16 yang artinya: “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan?”.
Mari kita bertanya kepada mata hati kita, apakah ia masih bisa menangis karena takut kepada Allah, atau ketika mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an, atau ketika dia telah menyadari banyak dosa dan kesalahan serta sudah tertipu oleh kehidupan dunia yang fana ini.
