Minggu, 11 Oktober 2015

PESONA ULUL ALBAB (12) Q.S. 38 Shaad ayat 29-30

PESONA ULUL ALBAB (Bagian XII / dua belas)

KISAH DAVID DAN GOLIAT

Kitab Al-Qur’an ini adalah kitab yang penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan Agar Ulul Albab mengambil pelajaran darinya. Dan kepada Dawud kami karuniakan anak bernama Sulaiman. Dia adalah sebaik-baik hamba. Sungguh dia sangat taat kepada Allah. (Q.S. 38 Shaad ayat 29-30).
Al-Qur’an adalah kitab yang penuh berkah, suatu ungkapan yang sangat indah yang bisa diraih oleh setiap manusia yang mengidam-idamkannya. Berkah adalah salah satu karunia Allah yang selalu ditumpahkannya kepada siapa yang dia kehendaki. Berkah adalah pemberian Allah yang selalu bertumbuh, beratambah, nenetap dan mengekal pada karunia yang kita terima. Berkah adalah kebahagian yang berakar ketaatan, atas karunia dan bimbingan Allah dalam melaksanakan apa yang diridhai-Nya. Salah satu contohnya adalah ketika Halimah menyusui bayi Muhammad SAW maka air susunya melimpah, ternak peliharaannya tambah gemuk dan sehat, hasil pertaniannya bertambah-tambah. Dan jasanya menyusui dikenang abadi sepanjang masa.
Dalam ayat di atas, Allah memberi contoh berkah pada kehidupan Nabi Dawud dan anaknya Nabi Sulaiman. Nabi Daud adalah symbol kekuatan sejati yang namanya diabadikan dalam semangat perjuangan menegakkan kebenaran dengan semboyan :”David Mengalahkan Goliat”. (yang dalam bahasa Qur’annya Dawud mengalahkan Raja Jaaluut). Dalam surat Al-Baqarah ayat 246-256 Allah memaparkan kisah pertempuran yang tidak seimbang antara pasukan Utusan Allah Thaaluut melawan Pasukan Raja Jaaluut yang kuat. Dalam pertempuran itu Seorang pemuda yang masih belia Bernama Dawud berhasil Membunuh Raja Jaaluut. Dan pasukan Raja Jaaluut dapat dikalahkan. Sehingga Allah memuji mereka dengan ucapan:” Betapa banyak terbukti dalam kenyataan bahwa pasukan yang berjumlah sedikit dan dianggap lemah bisa mengalahkan Pasukan yang banyak dan kuat dengan seizin Allah. Allah memberkahi Nabi Dawud dengan Kekuatan yang mengagumkan dunia yang sampai hari ini dialah manusia yang mampu mengolah dan melunakkan besi dengan tangannya, sebagai hasil ketaatannya yang selalu bertasbih bahkan Gunung dan burung-burungpun ikut bertasbih bersamanya karena dia diberkahi oleh Allah untuk mengerti bahasa mereka.
Nabi Dawud dikaruniai anak yang bernama Sulaiman. Anak yang taat dan menjadi sebaik-baik hamba. Liatlah ketika ayahnya akan membagikan warisan kepada anak-anaknya dia menyuruh mereka memilih antara Pangkat, harta dan ilmu, Anaknya yang bernama Sulaiman punya pilihan yang berbeda dengan saudara saudaranya yang memilih Pangkat dan jabatan, tetapi ia lebih cenderung untuk memilih ilmu. Maka hasilnya sungguh diluar dugaan karena ilmunya iltu adalah ilmu yang berkah, maka alhirnya dialah yang menjadi raja diraja pengganti ayahnya yang tidak saja merajai manusia tetapi juga makhluk makhluk lain seperti Jin dan semua binatang. dan dia juga mempunyai kekayayan luar biasa banyaknya. Yang sampai hari ini tidak bisa ditandingi oleh siapapun.
Tentu saja banyak yang penasaran dan bertanya apakah rahasia kesuksesan Nabi Sulaiman?. Allah membocorkan rahasia-rahasia itu dalam surat 27; An-Naml (yang berarti semut) dan Sutat 34; Saba’ (Negeri saba’ Yang makmur dan akhirnya hancur). Namun dalam tulisan ini kita mabil salah satu saja dulu yaitu, Sulaiman yang penuh berkah mempunyai watak yang bertolak belakang dengan Qarun yang dimusnahkan oleh Allah dengan siksa dunia. Nabi Sulaiman Selalu bersikap fositif dalam menyikapi segala bentuk karunia yang ia terima. Betapapun tinggi pangkat yang dicapainya, betapapun banyak harta yang dia peroleh dia tetap meyakini dan menyatakan :” haadza min fadhli rabbi liyabluwanii a-asykuru am akfur” yang artinya:” Ini semuanya merupakan karunia Allah kepadaku karena Dia ingin menguji saya apakah saya termasuk orang yang mensykuri nikmat atau malah menjadi orang yang kufur nikmat (Q.S.27; An-Naml: 40). Dia tidak pernah sombong, tapi selalu bersyukur. Semakin dia bersyukur maka nikmat itu semakin berkah, bertumbuh dan bertambah, menetap dan mengekal. Bagaimana dengan kita? Tentu saja jawabannya sudah ada di dalam hati kita masing-masing dan tidak perlu menanyakannya kepada orang lain.
Yaa Allah. Yaa Qawiy (yang Maha Kuat) Yaa Matiin (yang Maha Kokoh) 
Yaa ‘Aziiz (yang Maha Perkasa) Ya Maalikal-mulk. (yang Maha merajai segala Raja) 
Yaa Ghaniy Yang Maha Kaya) Yaa Mughmiy (yang Maha Mengayakan)
Walau kami tidak sekuat Nabi Dawud, curahkanlah kepada kami keberanian dan keteguhan untuk selalu membela orang-orang yang tertindas dan teraniaya serta selalu bertasbih kepada-Mu, bukan malah menidas dan meniaya atau berbuat semena-mena. Walaupun kami tidak sekaya dan seberlimpah nabi Sulaiman, karuniai kami rasa syukur dan kerendahan hatinya yang nghormati semut dan burung hud hud. Dan berkahilah setiap karunia yang kami terima sehingga ia Dan berkahilah setiap karunia yang kami terima sehingga ia selalu bertumbuh, bertambah, menetap dan mengekal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar