Minggu, 11 Oktober 2015

Surat 114; An-Naas (11) 10 PINTU MASUK SYETAN YANG MENYEBABKAN GANGGUAN KEJIWAAN

10 PINTU MASUK SYETAN YANG MENYEBABKAN 
GANGGUAN KEJIWAAN (BAGIAN 11 / SEBELAS )
الـسـلا م عـلـيـكـم ورحـمـة الله وبركا تـه
10. PINTU KESEPULUH, LOBA (TAMAK)
Banyaknya orang-orang miskin bukan karena Allah tidak menyiapkan rezkinya, tetapi lebih disebabkan oleh berkeliarannya orang-orang yang serakah yang gila harta dan mabuk kedudukan, yang merampas hak rakyat jelata dengan berbagai cara. Maka jangan heran kalau Negara Indonesia yang subur dan kaya dihuni oleh banyak orang miskin dan menderita.
Satu lagi sifat tercela yang menghilangkan ketenraman jiwa adalah tamak atau loba terhadap harta, jabatan, kehormaran dan selainnya. Bila sifat ini mulai timbul dalam diri manusia maka syetan akan menghasut akan semakin serakah, menumpuk harta sebanyak-banyaknya tanpa rasa malu, jauh dari sifat santun kepada fakir miskin, bahkan hak orang yang seharusnya dibantunya akan dikurasnya dengan berbagai cara yang bisa ia lakukan.
Orang-orang yang melakukan korupsi pada umumnya bukanlah orang yang berkekurangan, tetapi dia adalah orang-orang yang sudah berkecukupan yang dikuasai oleh sikap tamak dan serakah untuk menggendutkan rekeningnya, dengan tanpa rasa malu menari-nari diatas penderitaan orang lain, dengan cara menangguk di air keruh, menggunting dalam lipatan dan mencari-cari kesempatan dalam kesempitan, menggunakan jurus aji mumpung, sapu jagat atau ABS (asal Bapak Senang).
Sungguh memilukan dan memalukan ketika mengetahui ada orang yang sudah hidup layak yang mampu menolong orang susah, ketika diberi amanah untuk menyalurkan bentuan kepada orang yang sangat membutuhkan, malah menyelewengkan amanah itu untuk memperkaya diri sendiri karena dia telah dikuasai oleh sipat serakah. Dan yang lebih miris lagi uang itu digunakan untuk berfoya-foya dengan memberikan hadiah-hadiah mahal, mobil dan rumah mewah kepada wanita-wanita yang tidak halal baginya. Alangkah rusaknya jiwa orang orang yang seperti ini, tanpa rasa bersalah menumpuk-numpuk dosa karena syetan telah berhasil memperdayanya untuk memandang baik perbuatan-perbuatan yang dimurkai oleh Allah.
Keserakahan manusia bukan saja terhadap harta, tetapi juga terhadap pangkat dan kedudukan, kalau dapat dikuasainya semuanya, lalu dibagi-bagikannya kepada anak, isteri, cucu, mertua, menantu dan kroni-krominya saja, sehingga suatu wilayah yang besar dapat dikuasainya untuk dikuras isi buminya, laut dan udaranya.
Seorang hamba Allah yang baik harus berusaha menutup pintu masuk setan melalui sifat serakah ini, dengan menghindari kehidupan duniawi yang gemerlapan, berpoya-poya mengumbar nafsu. Tetapi dengan memperkuat keyakinan Allah, Bahwa Allahlah penolong sejatinya, bukan harta kekayaan yang melimpah, bukan pula kedudukan, pangkat dan jabatan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar